Senin, 15 Juni 2015

(pilihan naskah lomba Monolog) Balada Sumarah karya Tentrem Lestari

SIANG ITU MATAHARI MEMBARA DI ATAS KEPALA.  DI SEBUAH SIDING PENGADILAN TERHADAP SEORANG PEREMPUAN YANG TERTUDUH TELAH MELAKUKAN PEMBUNUHAN TERHADAP MAJIKANNYA, AKU SEPERTI DIDERA UCAPANNYA.  SEPERTI DILUCUTI HINGGA TANGGAL SELURUH ATRIBUT PAKAIAN BAHKAN KULIT-KULITKU.  PEREMPUAN ITU, BERNAMA SUMARAH, TKW ASAL INDONESIA.  DINGIN DAN BEKU WAJAHNYA.  DAN MELUNCURLAH BAIT-BAIT KATA ITU :

Dewan Hakim yang terhormat, sebelumnya perkenankan saya meralat ucapan jaksa, ini bukan pembelaan.  Saya tidak merasa akan melakukan pembelaan terhadap diri saya sendiri, karena ini bukan pembenaran.  Apapun yang akan saya katakana adalah hitam putih diri saya, merah biru abu-abu saya, belang loreng, gelap cahaya diri saya.  Nama saya Sumarah.  Seorang perempuan, seorang TKW, seorang pembunuh, dan seorang pesakitan.  Benar atau salah yang saya katakana menurut apa dan siapa, saya tidak peduli.  ini kali terakhir, saya biarkan mulut saya bicara.  Untuk itu, Dewan Hakim yang terhormat biarkan saya bicara, jangan ditanya dan jangan dipotong, kala waktunya berhenti, saya akan diam, selamanya.

Saya tidak butuh pembela, saya tidak butuh penasihat hokum.  Karena saya tidak mampu membayarnya.  Saya juga tidak mampu dan tidak mau memberikan selipan uang pada siapapun untuk melicinkan pembebasan dari segala tuduhan.  Toh semua sudah jelas!  Semua tuduhan terhadap saya, benar adanya.  Segala ancaman hokum, vonis mati, saya terima tanpa pembelaan, banding atau apalah namanya.

Kematian adalah kelahiran yang kedua.  Untuk apa berkelit kalau memang itu sudah winarah dalam hidup saya.

Sudahlah…. saya tidak perlu empati dan rasa kasihan.  Dari pengalaman hidup saya mengajarkan sangat…. sangat jarang dan hampir tak ada sesuatu yang tanpa imbalan dan resiko.  Juga rasa empati.

Yang jelas. sekarang biarkan dulu saya bicara tentang apa saja.  Penting atau tidak penting bagi dewan hakim, atau bagi siapapun, saya tidak peduli.  Apapun yang ingin saya lakukan biarkan seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir.  Mengalir ke mana pun curah yang mungkin terambah.  Mungkin mengendap di sela-sela jepitan hidup orang mungkin menabrak cadas batu dalam kepala orang, meniumbul riak, mungkin meluncur begitu saja bersama Lumpur kehidupan, tahi, dan rentanya helai-helai kemanusiaan, atau bahkan meluap-luap, menggenangi seluruh muka busuk para majikan, para penguasa hingga coro-coro kota.

Ee….. maaf kalau bahasa saya terlalu bertele-tele.  Baik saya mulai saja.

Nama saya Sumarah. Umur kurang lebih 36 tahun. Saya seorang TKW. Babu! Eeeh…. jangan meneriaki huu… dulu.  Ya memang saya babu.  Tapi justru itu saya hebat.  Saya hebat karena berani mengambil keputusan untuk menjadi babu.  Saya berani memilih keputusan untuk berada pada tempat terbawah dari structural manusia.  Belum tentu semua orang berani menjadi manusia di bawah manusia.  Ya… inilah saya, Sumarah, menjadu babu, buruh, budak sudah menjadi pilihan.  Bertahun-tahun, saya menjilati kaki orang, merangkak dan hidup di bawah kaki orang.  Bertahun-tahun saya tahan mulut saya, saya lipat lidah saya, agar tidak bicara.
Karena bicara,berarti bencana.  Bencana bagi perut saya, perut simbok, dan bencana pula bagi para majikan.  Tolong…. kali ini ijinkan saya mendongak dan membuka suara.
Dari kecil saya tidak berani mendongakkan wajah apalagi di Karangsari, desa tempat saya dilahirkan.

Orang-orang Karangsari selalu membuat saya gugup dengan bisik-bisik mereka, tatapan curiga mereka.  Kegugupan itu bermula, di suatu ketika di kelas, di bangku madrasah.  Pak Kasirin guru madrasah saya menerangkan :

“Pembunuhan para jenderal itu dilakukan oleh sekelompok orang yang sangat keji yang tergabung dalam organisasi PKI.  PKI itu benar-benar biadab.  Untuk itu dihapus dan dilarang berkembang lagi.  Seluruh antek PKI dihukum”.

Saya mendengarnya dengan takdim sambil membayangkan betapa jahatnya orang-orang yang membunuh para jenderal itu.  Tiba-tiba saya mendengar suara dari arah belakang bangku saya.  Setengah berbisik, tapi jelas kudengar.

“Eh, bapaknya Sumarah itu kan PKI.”
“Apa iya?”
“Lha sekarang di mana?”
“Ya sudah diciduk!”
Lalu saya menoleh ke arah mereka, dan terdengar suara :
“Ssst….. itu anak orang cidukannya menoleh ke sini.”
Plass!  Seperti terkena siraman air panas hatiku meradang, sakit, nyeri sekali. Malamnya saya bertanya kepada simbok.
“Mbok, bapak itu apa benar orang PKI mbok?”
Simbok yang hendak pergi ke tempat Den Sastro tetangga saya, untuk mengerik istrinya, jadi urung memasukkan dhuit benggol ke stagennya. Masih memegang uang benggol itu, simbok memandang saya, mukanya mendadak pucat dan bibirnya bergetar.
“Siapa yang mengatakannya padamu?”
“Tadi… di kelas teman-temanku bilang.”
Simbok duduk di amben.
“Kamu percaya?”

Saya tidak tahu harus mengangguk atau menggeleng.  Tiba-tiba pintu rumah diketuk.  Ternyata orang suruhan Den Sastro untuk menjemput simbok.  Simbok pun pergi tanpa sempat menjelaskan pertanyaan saya.  Pertanyaan itu baru terjawab pada malam berikutnya. Dan bukan dari simbok, tapi simbah yang menceritakannya.  Saya ingat waktu itu seperti biasa saya hendak tidur di samping simbah.  Simbok malam itu seperti biasa jadi tukang kerik.

“Mbah, apa iya bapak itu PKI to mbah?”
Sambil men-dhidhis rambutku, meluncurlah cerita simbah begini :
“Bapakmu itu orang lugu, ndhuk.  Sehari-hari pekerjaannya menderes kelapa dan ngusir andhong.  Kalau pagi, setelah menderes, kerjaannya narik andhong, mangkal di Pasar Slerem.  Dan sorenya nderes lagi.”
“Tukang nderes itu kan tidak cuma bapak to mbah! Lek Jo, Pak Dhe Sudi, Lek Paidi, mbah Suro juga nderes mbah, tapi…..”
“Ya!  Bukan karena nderesnya, ndhuk.  Tapi bencana itu bermula karena bapakmu kusir andhong!”
“Kusir andhong?”
“Sebagai kusir andhong, bapakmu sering mengantar siapa saja yang membutuhkannya.  Orang-orang yang mau ke pasar, dari pasar atau mau ke mana saja kehendak penumpang.  Salah satu langganan bapakmu, adalah seorang penyanyi bernama Pak Wasto.  Rumahnya kidul Pasar Slerem.  Bapakmu sering mengantar Pak Wasto ke sebuah rumah di desa Karang rejo.  Kadang seminggu sekali kadang tiga hari sekali.  Nah, pada suatu ketika, bapak membawa Pak Wasto dan dua teman Pak Wasto ke rumah.  mereka melihat simbokmu membuat gula dan menanyakan gula-gula itu dijual ke mana.  Kami, dari dulu menjual gula ke Den Projo, Pak Lurah.  Lalu mereka menawarkan untuk menampung gula-gula kami kata mereka, ko… koperasi begitu.  Dengan harga lebih tinggi dari harga yang diberikan Tapi dengan janji mereka, tentu saja kami mau.  Bahkan Pak Wasto memberikan kesempatan bapak untuk menderes kelapa di kebunnya.  Tapi kami tidak enak hati juga pada Den Projo.  Dan tetap menjual kepadanya, tapi tidak sebanyak semula.  Lama-lama Den Projo bertanya kepada simbahmu :

“Lek Nah, mantu sampeyan itu suka menyetor gula ke koperasinya PKI to?”
“Wah… ngapunten den, pokoknya Suliman menyetornya kepada Den Wasto.”
Pak Lurah manggut-manggut.  Tapi jelas simbah tahu Pak Lurah tidak suka.  Kami pun semakin tidak enak hati.  Tapi tidak lama kemudian, bapakmu bilang kami tidak usah lagi menyetor gula kepada Pak Wasto.  Karena Pak
Wasto dicidhuk tentara dan koperasi itu ditutup.  Rasanya kami tidak punya firasat buruk sama sekali mendengar berita itu.  Malah simbokmu dengen enteng bilang :
“Nggak apa-apa to Pakne.  Malahan tidak pakewuh sama Den Projo.”

Tapi ternyata yang terjadi setelah itu tidak seenteng yang kami duga.  Tepat dua malam setelah itu, suatu malam, waktu itu bapakmu sedang wiridan di langgar.  tiba-tiba Den Projo datang ke rumah mencari bapakmu. Ketika simbok menyusul bapakmu dan simbah menyilahkan Den Projo masuk, tahulah simbah selain Den Projo, di luar rumah ada dua tentara dan beberapa orang kampung.  Simbah bingung, dan was-was.  Dan lebih bingung lagi setelah bapakmu datang, dua tentara itu menyeret bapak ldiiringi Den Projo dan orang-orang.  Simbokmu menjerit dan bertanya.  Lalu Den Projo setengah menghardik setengah menahan, bilang ”Apa kamu mau diseret juga, Yu. Manut saja dulu.” Simbah gemetar, simbah bertanya-tanya, “Ooalah Gusti, lha Suliman nggak tahu apa-apa kok.”

Orang-orang bilang Suliman itu antek……..
Orang-orang bilang Suliman itu antek……..

Kami bertanya ke Den Projo keesokan harinya.  Dibawa ke mana bapakmu.  Den Projo bilang bapakmu dipenjara sementara.  Mungkin Cuma sebentar, mungkin lama.  Simbokmu lemes ndhuk.  Kami masih dalam kandungan lima bulan.  Kami menanti………..menanti………menanti……. hingga kamu lahir, hingga kamu tumbuh, sampai kini……  Tak pernah bertemu lagi,tak tahu di penjara mana bapakmu ditahan.  Setiap kali kami tanyakan itu ke Den Projo, Den Projo bilang, tunggu saja.  Jangan dicari daripada ikut keseret-seret.  Kami menanti, menanti, menanti terus dengan gugup dan gelisah.  Kuberi nama kau Sumarah karena hanya pasrah jawaban penantian ini.

Begitulah, simbah, simbok, Kang Rohiman, Yu Dasri tak pernah lagi bertemu bapak.  Dan saya tak pernah sekali pun melihat wajahnya.  Tapi rasanya bayangannya terus menguntit sepanjang hidup saya.  Membuat saya takut mendongak, membuat saya takut bicara, membuat saya kehilangan separuh ruang hidup saya. 
Selepas madrasah, kondisi ekonomi simbok tak mengijinkan saya sekolah lagi meski nilai ijazah madrasah saya bagus.

Kang Rohiman dan Yu Darsi kakak saya juga cuma lulusan madrasah.  Kira-kira umur 13 tahun, setelah tamat madrasah saya dibawa Lek Ngaisah tetangga saya ke kota bekerja ikut orang jadi babu.  Bertahan dua tahun,lalu saya pulang.  Saya ingin sekolah lagi.  Selama saya bekerja saya mengirimkan uang itu kepada simbok, tapi sebagian lagi saya kumpulkan.  Saya ingin sekolah lagi saya tidak ingin sebodoh bapak, simbok, atau simbah.  Saya tidak ingin diperdaya orang.

Kata orang pendidikan bisa melepaskan diri dari keterjepitan.  Dan saya percaya itu.  Meski susah payah saya sekolah, sepulang sekolah, saya bekerja jadi buruh urut genting di tempatnya Den Cipto tetangga saya yang juragan genting, untuk membiayai sekolah saya.  Dua belas tahun saya habiskan waktu saya untuk mendengarkan guru bicara di kelas, mempercayai teori-teori.  Aku hapalkan rums-rumus rumit matematika, cosines, tangent, diferensial.

Aku hapalkan teori Archemedes, Lavoisier, Einstein, aku hapalkan dikotil monokotil.  Aku hapalkan Undang-undang Dasar 45 dari pembukaan, pasal-pasal hingga ayat-ayatnya hingga ke titik komanya.

Aku hapalkan berapa luas Indonesia berapa pulau-pulaunya.  Yang kata guru saya :

“Indonesia itu negeri yang subur, gemah ripah loh jinawi.”

Saya hapalkan, di Cikotok ada tambang emas, di Tarakan ada tambang minyak, ada tambang nikel, ada hutan, ada bijih besi. Yang kemudian kutahu semua itu memang ada.  Tapi bukan milikku.

Dan yang paling kuhapal adalah butir-butir Pancasila.  “Kita harus mengembangkan toleransi.  Kita harus mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan.  Kita tidak boleh hidup boros.  Kita harus musyawarah untuk mufakat.  Kita harus begini.  Kita harus begitu.

Begini… Begitu…. Begini… Begitu….Begini… Begitu….. Di sekolah harus begini…eh di luar begitu.   Di sekolah bukan, eh di luar bukan bukan [bernyanyi] kan bukan… bukan… bukan…. kan …. bukan… bukan….bukan.

Kenyataannya semua menjadi bukan!  Semua teori, rumus, ambyar bubar! Nemku, rapotku, ijazahku macet ketika aku mencari kerja.  Ijazahku tak berbunyi apa-apa!  Saya ingat betapa susahnya dulu, ketika hanya punya ijazah madrasah.  Pilihan pekerjaan yang layak hanya jadi babu.  Menjadi pembantu di rumah orang. Bekerja dari subuh hingga larut malam.  Mulai dari mencuci, mengepel lantai, memasak, menyuapi anak majikan, menidurkan anak majikan, bahkan pernah disuruh memanjat ke atas genting. Pernah suatu ketika keluarga majikan saya pergi ke luar kota, kesempatan itu saya gunakan untuk tidur istirahat siang.  Kesempatan yang tidak pernah saya dapatkan sehari-hari.  Tidak saya sadari karena nyenyaknya tidur, hujan turun deras sekali.  Seluruh pakaian yang dijemur basah semua, bahkan sebagian terjatuh dan kotor.  Saya bingung dan takut.  Tapi tak tahu harus berbuat apa.  Ketika majikan saya pulang, bukan sekedar amarah, cacian yang saya terima.  Tapi juga pukulan dan gaji saya selama dua bulan saya kerja di situ hilang untuk menebus kesalahan saya.  Majikan saya mencaci :

“Kecil-kecil kamu sudah belajar menjadi koruptor ya.”
“Saya tidak mengambil uang, Pak,” jawab saya.  Setahu saya koruptor itu orang yang suka mengambil uang yang bukan miliknya.
“Kamu menyalahgunakan kesempatan,mencuri waktu dan kesenangan yang bukan hakmu.  Itu namanya koruptor,tahu!”

Astaghfirullah, lalu majikan saya yang menilep uang gaji yang menjadi hak saya, apa itu bukan koruptor juga.  Saya menangis, sedih, sakit, dan kecewa.  Lalu saya minggat, dan pulang ke kampong.  Saya bodoh, dan kebodohan saya membuat saya diperdaya.  Untuk itu saya terus berusaha untuk sekolah lagi.  Beruntung sebelum peristiwa itu, gaji saya selalu saya kumpulkan, setelah sebagian saya berikan kepada simbok, sehingga saya mempunyai uang untuk pulang ke kampung.

Biarpun susah payah, saya terus sekolah agar nasib saya jadi lebih baik.  Tiga ijazah saya punya.  Dengan nilai yang cukup bagus.  Bahkan nilai NEM SMA saya bagus disbanding teman-teman.  Saya bangga sekali karena pernah mengalahkan monster yang paling ditakuti oleh anak-anak sekolah, guru, dan kepala-kepala sekolah seluruh Indonesia, yaitu Ebtanas.  Tapi kebanggaan itu runtuh ketika di mana-mana saya terdepak dari pintu ke pintu mencari pekerjaan.  Terjegal karena bayangan bapak yang terus menguntit di belakang nama saya.

Bayangan bapak saya menggelapkan nama saya, ketika saya mencari keterangan surat bersih diri terbebas dari ormas terlarang sebagai salah satu syarat mendaftar PNS.  Saya ingat betul kata Pak Lurah waktu itu :

“Waduh, ndhuk, kamu itu memahami betul to persoalan ini.  Siapa bapakmu.  Saya betul-betul tidak berani member keterangan yang kau butuhkan.  Gundhulku ndhuk, taruhannya.”

Saya juga ingat betul, kata Mbok Dhe Jumilah, tetangga sebelah rumah,ketika bisik-bisik dengan Lek Nok di serambi langgar.  Dan meskipun bisik-bisik saya mendengarnya karena saya di belakang mereka.

“Yu, si Sumarah itu kok ya, ketinggian karep.”
“Ada apa to?”
“Itu mau jadi pegawai kantor. Ya jelas kejegal di kelurahan. Lha wong keturunannya orang bekuan!”

Aalah Bapak!!  Di mana engkau?  Aku ingin kau ada, dan bungkam mulut orang-orang itu. Rasanya aku lebih percaya seperti kata simbok, bahwa engkau baik, tapi lugu dan bodoh.  Tapi, ketiadaanmu membuat aku selalu takut dan gugup!  Kalau benar bapakku bersalah, lantas apa iya aku, simbok, Yu Darsi, Kang Rohiman harus menanggung dosa itu selamanya.  Dikucilkan, dirampas hak-hak kami?  Selalu terdepak di negeri sendiri.
Demikian, saya menjerit, meraung-raung, dalam bibir yang terkunci.

Saya lalu bekerja di sebuah pabrik tekstil yang baru beroperasi di tetangga desa.  Saya mendapat pekerjaan di bagian produksi.  Tak mungkin bekerja di bagian administrasi, meski saya punya ijazah SMA dengan nilai bagus pun, surat bersih diri, tak mungkin saya dapatkan sebagai syaratnya.  Suatu ketika, saya mendapat kecelakaan ketika tengah bekerja.  Tulang tangan saya retak…  Saya dibawa ke Rumah Sakit.  Tangan saya digips.  Rasanya sakit sekali.  Hanya dua hari saya opname di Rumah sakit.  Selebihnya disuruh berobat jalan.  Tapi uniknya, dari berkas acara pengobatan yang saya tangani, pabrik melaporkan 2 minggu saya dirawat.  Dan uniknya lagi saya lalu diberhentikan kerja dengan alasan setelah sakit nanti kerja saya tak lagi sempurna.  Dan uniknya lagi, saya tidak mendapat pesangon.  Tapi, Kang Rohiman kakak saya rajin membawa saya ke tukang pijat, sehingga tangan saya sembuh.  Setelah itu saya bekerja pada seorang juragan beras di kota kabupaten, bernama Bu Jurwati.  Semula tugas saya serabutan.  Kadang ikut menyeret karung-karung beras, kadang menimbangi beras dan mencatatnya.  Lama-lama Bu Jurwati tahu saya dapat menulis pembukuan uang dengan baik.  Lalu saya mendapat pekerjaan membukukan seluruh jual beli beras.  Tentu saya sangat senang sekali.  Pekerjaan itu tidak terlalu melelahkan.  Meski kadang-kadang saya juga harus melembur hingga larut malam, terutama pada hari-hari tertentu.  Misalny saat tanggal muda. Suami Bu Juwarti, seorang pejabat di kantor kabupaten, saya tidak tahu jabatannya apa.  Hanya separoh lebih, jatah beras pegawai dibeli oleh Bu Juwarti.  Beras dari gudang Bulog itu bahkan kadang langsung dikirim ke rumah, tanpa dibagikan ke pegawai yang menjual berasnya ke Bu Juwarti.  Bu Juwarti juga menampung beras-beras dari proyek sembako.  Ceritanya begini, suatu ketika saya kaget sekali karena muncul Pak Lurah Karangsari yang menjual beras ke Bu Juwarti, berkarung-karung.  Saya tahu, Pak Lurah punya sawah bengkok, tapi tak mungkin panen sebanyak ini.  Lagi pula mutu berasny jelek, apek, dan tidak putih.  Lalu saya ingat, sewaktu pulang ke Karangsari, saya tahu simbok mendapat jatah beli beras murah dari kelurahan.  Berasnya juga apek dan kekuningan.  Tidak salah lagi pasti beras yang dijual Pak Lurah adalah beras pembagian.  Pak Lurah kaget, saat bertemu saya pertama kali di rumah Bu Juwarti.  Tapi selanjutnya matanya menekan, dan menarik lengan saya, dia berbisik :

“Sum, ini sekedar uang saku untukmu.”

Pak Lurah menyisipkan beberapa uang ke tanganku.  Saya tahu matanya yang menekan itu, mengatakan jangan kau bicarakan hal ini kepada orang-orang.  Dari pengalamanku itu, asya jadi tahu, kalau ada beras apek dan kuning, ada dua kepastian, itu beras jatah pegawai atau jatah sembako.  Dari bekerja di juragan beras itu, saya berkenalan dengan seorang lelaki, yang kemudian saya jatuh cinta padanya.  Namanya Mas Edi, seorang tentara.  Yang sering mengantarkan beras-beras jatah pada tentara yang dijual kepada istri komandan Mas Edi.  Nah, Mas Edi bertugas mengantarkan beras-beras itu.  Cinta saya semakin bersemi, manakala saya tahu Mas Edi juga menaru hati pada saya, rasanya hati saya melambung tinggi sekali.  Tapi untuk kemudian terpelanting dan jatuh ke jurang yang curam.  Saya tak mungkin meneruskan hubungan cinta saya dengan Mas Edi.  Saya tidak mungkin membumikan impian untuk menjadi istrinya.  Mas Edi mundur teratur setelah mengetahui sejarah keluarga saya.  Sebagai tentara haram jadah jika mempunyai istri seperti saya.  Lagi-lagi bayangan bapak menggelapkan nama saya.  Saya terus bekerja di juragan beras itu.  Untuk itu saya putuskan berhenti, saya pamit.  Saya ingin pergi jauh. Saya ingin lari, mencari tempat di mana bayangan bapak tidak lagi dapat menguntit lagi.
Di tengah gulana itu, simbok suatu sore berkata :

“Sum, apa kamu mai kerja di Arab?  Lihat si Konah itu, Pulang dari Arab rumahnya jadi gedhong magrong-magrong, bisa beli montor, bisa beli kebo.  Lihat juga Sunarti anaknya Lek Mariyem.  Dua tahun kerja di Arab, pulangnya bisa buka toko kecil-kecilan.”
Saya diam.  Tapi kata-kata simbok mengganggu pikiran saya.

“Mbok, kalau mau pergi ke Arab, gimana caranya.  Dan mau dari mana biayanya?”

Lalu segala suatunya kami urus, melalui perantara seorang calo, saya dapat mendaftar sebagai seorang TKW, dan segala syarat saya penuhi.  Pekarangan simbok peninggalan bapak kontak untuk menyelesaikan semua itu.  Dari biaya-biaya administrasi di kelurahan, Depnaker, kantor imigrasi, biro tenaga kerja, sampai biaya tetek bengek yang ternyata panjang betul yang terkait.  Saya tahu, saya paham memang harus begitu caranya. Termasuk caranya, saya paham, Pak Lurah akhirnya mau mrmberi saya surat keterangan bersih diri, pertama karena selipan dua ratus ribu, kedua karena kartu asnya di tangan saya masalah bisnis berasnya itu, ketiga, toh saya hanya jadi TKW, apa yang mesti ditakutkan dari seorang Sumarah, anaknya Suliman orang cidukan, bekuan PKI.

Termasuk jufa saya jadi paham betul, menyelipkan lembar-lembar uang agar segalanya jadi cepat beres.  Mengurus paspor dengan biaya lebih tiga kali lipat dari harga semestinya.  Memberi tip pegawai Depnaker, memberi tip calo, memberi tip anu, memberi tip anu, dan untuk anu, anu, anu…..

Ooalah mengapa tidak saya sadari sejak dulu, bahwa segala sesuatunya bisa dengan mudah dengan selipan-selipan itu.  Jadilah saya, Sumarah binti Suliman jadi TKW lulusan SMA dengan predikat NEM tertinggi, jadi babu di negeri orang.  Cosinus, tangent, diferensial jadi mesin cuci. Archimedes jadi teori menyeterika baju.  Dikotil, monokotil jadi irama kain pel.  Teori pidato jadi omelan majikan. Dan…. 13…. Pulau dari Sabang Merauke yang subur makmur gemah ripah loh jinawi lenyap jadi wajan penggorengan di dapur.  Ooooo mana…. mana harum melati, hutan tropis, kupu-kupu, minyak, emas, rotan, bijih besi??

Oooo mana cerita Pak Kasirin guru madrasah saya tentang pribadi bangsa Indonesia yang adi luhung, ramah tamah, kekeluargaan, gotong royong, etc, etc…

Semua hanya bisa saya beli dengan uang.  Di negeri sendiri, saya menjadi rakyat selipan, setengah gelap, tak boleh mendongakkan kepala, dan bicara.  Di negeri sendiri saya di depak sana, di depak sini, dikuntitkan baying-bayang bapak yang dihitamkan oleh mereka untuk menggelapkan nama saya.  Dan sekarang di negeri orang saya menjadi budak, menjual impian untuk hidup lebih baik.  Di negeri orang, saya hanguskan segala cinta saya, seluruh kenangan manis, pahit getir, masa remaja saya.  Saya pikir, segalanya jadi berubah.  Saya pikir, saya dapat bermetamorfosa dari ulat bulu menjadi kupu-kupu indah.  Tapi ternyata……. Sumarah tetap saja kandas.  Di balik jubah-jubah majikan saya, di balik cadar-cadar hitam majikan saya, segala nasib saya kandas ! Saya disiksa, gaji saya setahun hilang untuk tetek bengek alasan administrasi yang dicari-cari, dan bencana itu… saya diperkosa!!!  Seperti budak hina yang halal dibinatangkan.

Bertahun-tahun saya Cuma diselipkan di negeri sendiri.  Kepala saya tidak boleh menyembul di tengah kerumunan.  Apakah di negeri orang saya masih dimelatakan. Tidak!!  Kesadaran itu muncul tiba-tiba.  Saya harus mendongakkan kepala, meludahi muka orang yang membinatangkan saya, mengangkat tangan dan meraih pisau tajam untuk kemudian saya masukan mata pisau ke jantung hatinya.  Majikan itu saya bunuh.  Semuanya!  Saya tahu, saya akan menjadi gelap yang sesungguhnya.  Bertahun-tahun saya tidak salah tapi disalahkan.  Sekarang dengan berani saya berbuat salah.  Salah yang sesungguhnya.

Saya sadar, saya akan divonis mati.  Saya tidak butuh pembela.  Saya tidak butuh penasihat hukum.  Tidak usah saya dipulangkan dan diadili di negeri saya.  Karena persoalan akan mejnadi jauh lebih rumit.  Karena tidak ada yang bisa dihisap lagi dari seorang babu sepreti saya, maka saya ragu apakah hukum di negeri saya bisa membela saya.

Dewan hakim yang terhormat, inilah saya.  Nama saya Sumarah.  Bagi saya perjuangan, harapan, penderitaan, semua buth keberanian.  Tapi harapan menjadikan penjara bagi hidup saya.  Tidak, saya sekarang bebas dar harapan.  Hidup saya penuh ketakutan.  Sekarag saya harus berani karena hidup dan mati adalah dua sisi keping nasib.  Dan keping kematian yang terbuka di telapak tangan saya, itulah yang harus saya jalani sekarang.  Dengan berani!  Senang, sakit, dosa, pahala, semua sama.  Ada resikonya.  Inilah saya, nama Sumarah.  Saya siap mati.

Siang itu matahari masih membara di atas kepala.  Bibir perempuan itu sudah terkatup.  Tapi gema suaranya masih memantul-mantul, seperti hendak menggeletarkan seluruh dinding kepalaku.  Apa yang bisa perempuan itu kisahkan, seperti kaca bening buatku.  Di sana aku bisa melihat jelas, sebagian besar otak manusia ada di perut. Perut mampu mengendalikan seluruh proses hidup manusia.  Demi perut seorang dapat memutarbalikkan kebenaran.  Demi perut seorang dapat menjadi singa bagi orang lain.  Menerkam dan menancapkan kuku-kukunya di jantung nasib orang.  Demi perut, segala sesuatu bisa bergeser.  Kemanusiaan, moral hukum.  Demi perut, hukum dapat diputarbalikan.  Dan demi perut yang harus diselamatkan terus menganga, meminta, mencari umpan, mengirim sinyal, agar data dimanipulasikan, agar fakta direkayasa, agar di benam kepala orang, agar mulut katakana ya meski kebenarannya tidak.  Seorang Suliman meski tidak logis di-PKI-kan, tapi jika membelanya berarti ancaman bagi jabatan, ancaman bagi perutnya, maka tak ada seorangpun yang menepiskan ketakutan untuk membelanya.  Kekuasaan itu begitu indah.  Sihir mujarab untuk menyumpal perut-perut yang menganga. Aku tahu itu. Karena aku, orang Indonesia.



SELESAI

(pilihan naskah lomba drama) Soak karya Giri Ra Tomo

PARA PELAKU

PROFESSOR
HARMO ATAU ASSISTEN PROFESSOR 1 ATAU SIAPA SAJA
MOKO ATAU ASSISTEN PROFESSOR 2 ATAU SIAPA SAJA
EKSPERIMEN NO 1
EKSPERIMEN NO 2
EKSPERIMEN NO 3


PANGGUNG BERSUASANA LABORATORIUM. KALAU TOH TIDAK TERLIHAT PERSIS, TIDAK APA-APA. YANG PASTI DI RUANGAN ITU ADA SEBUAH MEJA DAN BEBERAPA BUAH KURSI. DI ATAS MEJA TERDAPAT GELAS-GELAS UKUR, BEJANA, SELANG-SELANG TEMPAT UKUR CAIRAN KIMIA DAN ALAT LABORATORIUM LAIN.
SEMENTARA DI SALAH SATU POJOK RUANGAN TAMPAK MAKHLUK-MAKHLUK HASIL EKSPERIMEN PROFESSOR. DIAM TAK BERGERAK.
SUARA PROFESSOR TERDENGAR DI KEJAUHAN MENYANYIKAN LAGU TOP TEN TERKINI. MAKIN LAMA SUARA PROFESSOR MAKIN MENDEKAT. PROFESSOR DENGAN MUKA YANG KUSUT DAN LELAH TERGOPOH-GOPOH MASUK RUANGAN DENGAN MEMBAWA SEBUAH EMBER BERISI AIR.

PROFESSOR
Pikiran memang tidak pernah adil. Semakin tua pikiran, semakin cerewet dia.

(memanggil assistennya)

Harmo! Moko!

(Assisten masuk )

Kenapa kalian selalu alpa mengerjakan tugas kalian? Kemana saja kalian selama saya tinggal? Bukankah kalian tahu bahwa eksperimen-eksperimen saya tidak boleh ditinggalkan meski hanya beberapa menit?

(Assisten diam. Setelah professor selesai ngomel, baru mereka bergerak mengambil ember yang dibawa professor. Setelah ember di beri semacam cairan yang sangat bau, salah seorang assisten segera mengepel ruangan lab. Sementara sang professor asyik mengamati makhluk eksperimennya.
Selesai mengepel ruangan, sehingga seluruh ruangan bau, assisten kembali diam di salah satu pojo).

Harmo! Moko! Sekarang kita amati bersama perkembangan eksperimen-eksperimen kita hari ini.

(Professor memukul lonceng yang berada di salah satu pojok ruangan. Saat lonceng dipukul satu kali, eksperimen no 1 bergerak perlahan)

Eksperimen no 1, ikuti kata-kata saya.

EKSPERIMEN NO 1
Eksperimen no 1, ikuti kata-kata saya.

PROFESSOR
Bukan begitu, maksud saya…

EKSPERIMEN NO 1
Bukan begitu, maksud saya…

PROFESSOR
Goblok! Dengar!

EKSPERIMEN NO 1
Goblok! Dengar!

PROFESSOR MARAH, DIPUKULNYA LONCENG SATU KALI. EKSPERIMEN NO 1 DIAM TAK BERGERAK.

PROFESSOR
Harmo, kasih dia injeksi inisiatif. Setengah cc saja, tidak usah banyak-banyak. Sebab kalau terlalu banyak nanti bisa menghasilkan makhluk-makhluk yang kritis. Dan itu berbahaya bagi kita.

HARMO MENYUNTIKAN CAIRAN INISIATIF, HANYA SETENGAH CC. PROFESSOR MEMUKUL KEMBALI LONCENG 1 KALI. EKSPERIMEN NO 1 KEMBALI BERGERAK.

EKSPERIMEN NO 1
Saya goblok. Saya dengar. Inisiatif. Inisiatif. Goblok. Dengar.

PROFESSOR
Bagus. Sekarang coba eja huruf-huruf ini…

EKSPERIMEN NO 1
I.. en.. I …ini …. Be…A….Be… I….babi….ini babi..

PROFESSOR
Bagus..coba yang ini….

EKSPERIMEN NO 1
Es…A…sa…Ye…A…ya…Saya

PROFESSOR
Sempurna! Coba yang ini …

EKSPERIMEN NO 1
Te…U..tu…Ha..A..ha..nxccytrfghh..tuha..njgtfcdxczv..
Saya…bagus….saya…goblok….saya…dengar….inisiatip…inisiatip…saya..babi..goblok….dengar…babi….

PROFESSOR MARAH, DIPUKULNYA LONCENG SATU KALI. EKSPERIMEN NO 1 DIAM TAK BERGERAK.
PROFESSOR MENGAMATI EKSPERIMEN NO 3. RAGU-RAGU DIA MAU MEMUKUL LONCENG MELIHAT WAJAH EKSPERIMEN NO 3 YANG TEGANG.

PROFESSOR
Moko, ambil cairan kesabaran! Tampaknya eksperimen no 3 kurang injeksi cairan kesabaran!

MOKO
Ini, prof.

PROFESSOR
Bagus. Injeksi dia lewat vena. Hati-hati. Jangan over dosis, sedikit saja. Sebab kalau terlalu banyak nanti hanya akan menghasilkan makhluk-makhluk yang pasrah dan nrimo.

PROFESSOR MEMUKUL LONCENG YANG BERADA DI SALAH SATU POJOK RUANGAN. SAAT LONCENG DIPUKUL DUA KALI, EKSPERIMEN NO 2 BERGERAK PERLAHAN, MAKIN LAMA MAKIN CEPAT. GERAKANNYA SANGAT LINCAH DAN ATRAKTIF. PROFESSOR DAN ASSISTENNYA TERKEJUT. MEREKA TERPAKU DI SALAH SATU POJOK.

EKSPERIMEN NO 2
Hallo. Any body at home? Mana coca cola? Ai haus, nih. Mana donat, mana fried chicken? Ai laper, nih.

PROFESSOR
Hallo, nampaknya you sangat mewakili anak muda masa kini. Energik, bergairah dan meluap-luap.

EKSPERIMEN NO 2
Oo pasti. Ei, siapa you orang tua?

PROFESSOR
Aha. Saya yang telah mengenalkanmu dengan coca cola, mtv, donat, fried chicken dan sudah tentu membekalimu dengan moral pancasila.

EKSPERIMEN NO 2
Sempurna. Boleh saya panggil papi? Tentu boleh dong, orang tampan ga mungkin nolak ai panggil papi. Ok. Pap, malam ini ai pingin keluar ke mall trus cabut ke café mungkin pulangnya agak malam. Ya jam dua jam tiga lah. Mumpung malem minggu. Eh, tapi besok malem Senen juga, malem Selasa iya. E, malem Rebo kebetulan ada yang ultah, trus malem Kamis ada kencan ama Robby. Nah malem Jumat baru ai pulang agak sore..ya jam satuan lah. Boleh ya, pap. Boleh, dong.

PROFESSOR
O o dengar anak muda, kita hidup di negeri yang penuh norma-norma ketimuran. Tak baik bagi anak muda seperti kamu keluar sampai larut malam. Apalagi sering berganti pasangan. Apalagi mojok di kegelapan. Apalagi pakai obat-obatan yang memabukan. Tak baik bagi kesehatan.

EKSPERIMEN NO 2
Ah papi..pikiran papi udah kedaluwarsa deh, ketinggalan kereta. Kami, anak muda tak kenal lagi barat timur. Bagi kami barat itu lezat timur itu nikmat. Apa yang ada di depan mata itulah santapan. Semua yang kami inginkan mesti tersaji cepat. Instant. Kalau mungkin, saat ini kami inginkan, menit berikutnya terwujud di depan mata. Jujur, kami enggan kerja yang melelahkan. Toh, hidup mesti dinikmati.

PROFESSOR
Anak muda, tidak ada sesuatu yang bisa diwujudkan tanpa bekerja keras, tanpa berusaha. Bagaimana you akan menjadi bila semua ingin dilayani?

EKSPERIMEN NO 2
Bicara dengan orang tua memang tak pernah nyaman. Papi, dengar ya.. bagi kami rock n roll telah mati, sekarang telah berganti industrial, hip hop  bla..bla..
Bagi kami norma adalah bla..bla..bla…
Bagi kami rasa hormat adalah bla…bla…
Bagi kami cinta adalah bla..bla..

PROFESSOR MARAH, DIPUKULNYA LONCENG DUA KALI. EKSPERIMEN NO 2  DIAM TAK BERGERAK.

PROFESSOR
Harmo! Moko! Cepat suntik dengan setengah cc cairan kesadaran dan campur dengan dua pertiga cc cairan kesederhanaan.

(Harmo dan Moko cepat-cepat menyuntik eksperimen no 2)

Sangat sulit dibayangkan. Bila generasi muda di negeri ini seperti eksperimen saya nomor 2 Akan diarahkan kemana kapal bangsa ini atau akan dibiarkan karam di sapu badai kemajuan?

PROFESSOR
Harmo, Moko kalian jaga mereka. Ingat jangan sampai kalian lengah barang beberapa menit. Saya akan menghirup udara sebentar.

PROFESSOR KELUAR RUANGAN. TINGGAL ASSISTEN PROFESSOR DI DALAM RUANGAN. HARMO SIBUK MENGAMATI MAKHLUK-MAKHLUK EKSPERIMEN DAN MOKO MERACIK FORMULA-FORMULA KIMIA.

HARMO
Berapa tahun kita telah bergelut dengan formula-formula ini?

(Moko Tetap asyik meracik formula)

Berapa tahun kita telah bersetubuh dengan makhluk-makhluk ini?

MOKO
Tak pernah aku hitung.

HARMO
Hampir dua pertiga usiaku aku habiskan di laboratorium ini. Sedang sepertiga lainnya menjadi masa laluku yang gelap. Engkau?

MOKO
Tak pernah ku ingat.

HARMO
Aku muak. Aku bosan dengan segala ocehan orang tua sok pintar itu.

MOKO
Hei, apa yang kau katakan barusan?

HARMO
Aku bosan dengan segala ocehan orang tua sok pintar itu.

MOKO
Kenapa mesti bosan? Kalau kita sadar segala omongan dan kemarahan professor semuanya itu ada gunanya bagi kita.

HARMO
Sementara kita menjadi robot-robot yang harus ke sana, harus ke sini.

MOKO
Itu wajar. Sebab kita masih belajar.

HARMO
Dengar kawan, dua pertiga usia kita telah kita habiskan dengan formula-formula yang tak pernah sempurna.

MOKO
Kesempurnaan ada karena ketidak sempurnaan.

HARMO
Dan bila ketidak sempurnaan itu terjadi, lantas kita berdua yang disalahkan dan dimaki?

MOKO
Itu pantas sebab kita yang mengerjakan.

HARMO
Aku ingin mencapai kesempurnaan.

MOKO
Ya, semua orang pasti menginginkan itu.

HARMO
Aku menginginkannya sekarang.

MOKO
Apa?

HARMO
Aku menginginkannya sekarang.
Dengar kawan, tak perlu lagi kita menunggu waktu.

MOKO
Hei, kesempurnaan itu tercapai karena proses. Perlahan-lahan.

HARMO (mengejek)
Perlahan-lahan. Kau sama saja dengan professor. Perlahan-lahan. Proses. Persetan dengan proses!

MOKO
Ingat kata professor, kita tak boleh menyepelekan proses.

HARMO
Persetan dengan professor.
Dengar kawan, sekian lama kita bergelut dengan formula-formula ini. Kita yang langsung bereksperimen. Kita paham betul seluk beluk formula-formula ini. Sudah saatnya kita coba sendiri hasil eksperimen kita.

MOKO
Eksperimen kita? Kau salah. Kita hanya mengerjakan. Jelas, formula-formula ini hasil pikiran professor.

HARMO
Kawan, sudah saatnya kita yang menguasai ini. Kita yang akan menulisi ini dan kita yang mengendalikan makhluk-makhluk eksperimen itu. Dan kemudian kita yang akan dikenang dunia.

MOKO
Sadarkah kau dengan apa yang kau ucapkan?

HARMO
Aku sadar dengan sesadar-sadarnya. Sehingga sekarang aku tekadkan untuk menyuntikkan segala cairan ini ke makhluk-makhluk itu.

MOKO
Hentikan semua keinginanmu!

HARMO
Kau terlambat kawan! Aku telah menyuntik habis cairan kesombongan dan inisiatif ke tubuh mereka.

MOKO
Kau! Tak akan ku biarkan! Aku akan laporkan semua ini ke professor!

KELUAR RUANGAN

HARMO
Tunggu!

MENYUSUL KELUAR RUANGAN

SUARA MOKO
Kau telah melakukan kesalahan fatal!

SUARA HARMO
Siapa yang salah? Dengar! Aku sudah tidak sabar ingin mencapai kesempurnaan!

SUARA MOKO
Aku harus laporkan ke professor!

SUARA HARMO
Dengar kawan, sekarang waktunya kita! Tak usah lagi kita menjadi robot-robot professor!

SUARA MOKO
Tidak! Kalau aku tidak mau kau mau apa?

SUARA HARMO
Baiklah! Kalau itu maumu! Silahkan!

SAAT HARMO DAN MOKO BERADA DILUAR RUANGAN, MAKHLUK-MAKHLUK EKPERIMEN PERLAHAN-LAHAN KELUAR DARI RUANGANNYA. MEREKA SALING SUNTIK CAIRAN ANTARA SATU DENGAN YANG LAINNYA.
BEBERAPA SAAT KEMUDIAN MEREKA KEMBALI KE RUANGANNYA DAN DIAM.

HARMO(Masuk menggendong tubuh Moko)
Sepertinya memang aku harus berbuat ini!

 (Membuang tubuh Moko di salah satu pojok ruangan)

Bila kata-kata tak bisa menjadi jalan diplomasi hanya kekerasan yang mampu mengatasi.

Dan sekarang tinggal aku sendiri disini. Aku!
Ilmuwan terakhir abad ini yang berotak jenius dengan kemampuan membaca masa depan yang tiada tara dan digabungkan dengan daya imajinasi yang tinggi.
Ha, sekarang tiba saatnya sang jenius mengendalikan semuanya!

(Harmo memukul lonceng. Makhluk-makhluk eksperimen bergerak)

Sekarang kalian harus mengikuti apa perintahku.
Kalian dengar?

(Makhluk-makhluk eksperimen serempak mengangguk-angguk)

Aku yakin kalian adalah yang terpilih untuk membawa perubahan. Aku yakin perubahan tak mungkin sempurna bila perlahan-lahan dan memakan waktu yang terlalu lama. Sekarang. bergeraklah kalian ke barat!

MAKHLUK-MAKHLUK EKSPERIMEN BERGERAK. AWALNYA PERLAHAN LAMA KELAMAAN MAKIN TIDAK TERATUR DAN SEMAKIN LIAR. MEREKA MENGANGKAT TUBUH HARMO DAN MELEMPARKANNYA KE RUANGAN YANG GELAP.

EKSPERIMEN NO 3
Pikiran-pikiran tua kedaluwarsa.

EKSPERIMEN NO 2
Keliaran adalah segalanya.

EKSPERIMEN NO 1
Inisiatip. Kritis. Inisiatip.

MAKHLUK-MAKHLUK EKSPERIMEN SEMAKIN LIAR GERAKANNYA. RUANGAN LABORATORIUM MENJADI BERANTAKAN. MELIHAT ADA ORANG YANG TERGELETAK, MOKO, DI SALAH SATU POJOK RUANGAN MEREKA MENGANGKATNYA BERAMAI-RAMAI DAN MEMBAWANYA KELUAR.
SEBELUM KELUAR RUANGAN, MOKO SADAR DARI PINGSAN.

SUARA MOKO
Professor, tolooong!

PANGGUNG GELAP SEKETIKA, JERIT MOKO MASIH TERDENGAR.


SELESAI


(pilihan naskah lomba drama) Mentang-mentang dari New York

DISADUR OLEH NOORCA MARENDRA DARI KARYA MARCELINO ACANA JR TERJEMAHAN TJETJE JUSUF

SETTING
RUANG TAMU DI RUMAH KELUARGA BI ATANG DI KAMPUNG JELAMBAR. PINTU DEPANNYA DI SEBELAH KANAN, JENDELA SEBELAH KIRI, DI SEBELAH KIRI PENTAS INI, ADA SEPERANGKAT KURSI ROTAN, DI SEBELAH KANAN ADA RADIO BESAR YANG MERAPAT KE DINDING BELAKANG. DI TENGAH DINDING ITU ADA SEBUAH PINTU YANG MENGHUBUNGKAN RUANG TAMU DENGAN BAGIAN DALAM RUMAH ITU. PAGI HARI, KETIKA LAYAR TERBUKA, TERDENGAR PINTU DEPAN DIKETUK ORANG, BI ATANG MUNCUL DARI PINRU TENGAH SAMBIL MELEPASKAN APRONNYA, DAN BERSUNGUT-SUNGUT. BI ATANG INI ORANGNYA AGAK GEMUK, JIWANYA KUNO. TAPI TUNDUK TERHADAP KEMAUAN ANAK PEREMPUANNYA YANG SOK MODERN. OLEH KARENA ITU MAKLUM KALAU BAJU RUMAHNYA GAYA BARU. APRONNYA BERLIPAT-LIPAT, DAN POTONGAN RAMBUTNYA YANG DI “MODERN”KAN ITU TAMPAK LEBIH TIDAK PATUT LAGI.
BI ATANG
(SAMBIL MENUJU PINTU) tamu lagi, tamu lagi, tamu lagi! Selalu ada tamu yang datang. Saban hari ada tamu, sial kaya orang gedongan saja. (MEMBUKA PINTU DAN ANEN MASUK DENGAN BUKET DI TANGANNYA, PAKAIANNYA PERLENTE, DAN IA TERTEGUN DI PINTU MENATAP BI ATANG DENGAN DAN GUGUP MEMPERHATIKAN BI ATANG KE BAWAH)
Eh … Anen! Bibi kira siapa? Ayo masuk!

ANEN
Tapi … ini Bi Atang bukan?!
BI ATANG
(TERTAWA) Anen! Anen! Kalau bukan Bibi, siapa lagi? Dasar anak bloon. Kamu kira aku ini siapa hah? Nyonya Menir?
ANEN
(TERSIPU) Habis kelihatannya kayak nyonya besar sih.
BI ATANG
(TERSIPU SAMBIL MEMEGANG RAMBUTNYA YANG PENDEK) Kemarin rambut ini Bibi potong di kap salon, biar kelihatan modern, kata si Ikah, apa kelihatannya sudah cukup mengerikan?
ANEN
Oh … tidak, tidak. Malah kelihatannya gagah sekali. Tadi saya kira Bibi ini Ikah, jadi saya agak gugup tadi. Maklum sudah lama tidak ketemu.
BI ATANG
Ah dasar! Kamu dari dulu nggak berubah juga. Nakal (MENCUBIT PIPINYA) Ayo duduk! (ANEN DUDUK) Bagaimana kabar ibu?
ANEN
Wah kasihan Bi, ibu sudah kangen sama Bibi. Katanya ia tidak tahan lama-lama meninggalkan Jelambar. Malah ia ingin cepat-cepat pulang.
BI ATANG
(MENDEKAT) O ya, sudah berapa lama ya, kalian pergi dari sini?
ANEN
Belum lama Bi, baru tiga bulan.
BI ATANG
Baru tiga bulan? Tapi tiga bulan itu cukup lama buat penduduk asal Jelambar yang pergi dari kampung ini. Kasihan juga ya, rupanya ibumu sudah bosan tinggal di karawang.


ANEN
Iya, tapi maklum Bi, buat insinyur-insinyur macam saya ini, kerja di sana cukup repot. Dan kalau jembatan Karawang itu sudah kelar, kami pasti akan segera kembali ke sini. Jelambarkan tanah tumpah darah kami. Begitu kan Bi?
BI ATANG
Orang kata Nen, biar jelek-jelek juga lebih enak tinggal di kapung sendiri. Makanya kamu harus cepat-cepat bawa ibumu, Bibi nggak ada teman lagi buat main caki.
ANEN
Benar Bi, ibu memang sudah kangen sekali main ceki.
BI ATANG
Makanya, Bibi bilang ibumu tidak mungkin jadi penduduk kampung lain. Apalagi di luar kota, sekali dia pernah jadi gadis Jelambar tetap saja gadis Jelambar. Ingat saja kata-kataku ini. (TIBA-TIBA IA TERINGAT SESUATU) Tapi ini betul atau tidak entahlah. Kalau melihat anak Bibi si Ikah yang telah pergi ke Amerika dan tinggal setahun di sana, katanya bahkan ia tidak pernah rindu kampung halaman.
ANEN
(MULAI GUGUP LAGI) Ka … ka… kapan Ikah datang ke sini, Bi?
BI ATANG
Dari Senin kemarin, kenapa?
ANEN
O … pantas, saya baru tahu waktu say abaca di korang, katanya Ikah sudah pulang dari New York, jadi … jadi …
BI ATANG
(PENUH ARTI) Jadi kamu datang ke sini bukan?
ANEN
(TERSIPU) Ah … Bibi bisa saja!
BI ATANG
(MENGELUH) Anak itu baru datang Senin kemarin, tapi coba lihat sudah berapa banyak badan Bibi dipermaknya. Lihat! Waktu pertama kali ia datang dan melihat Bibi, ia marah-marah, katanya, Bibi harus segera bersalin rupa. Bibi yang sudah tua Bangka ini harus dipermak, biar jangan kampungan. Bibi pagi=pagi sekali sudah diseret ke kap salon, dan kamu bisa lihat hasilnya. Saksikan perubahan apa yang  telah menimpa diriku secara revolusioner ini! Rambutku dibabat habis, alis dicukur, kuku dicat, dan kalau Bibi pergi ke pasar harus memakai gincu pipi dan lipstick. Bayangkan, apa nggak persis kodok goreng? Semua teman-teman Bibi di pasar, di jalanan pada menertawakan Bibi. Mereka pikir Bibi sudah agak saraf, masa tua Bangka begini di coreng moreng. Kaya tante girang saja. Tapi apa musti perbuat? Kamu tahu sendiri adatnya si Ikah, Bibi nggak bisa berselisih paham dengan dia. Katanya Bibi harus belajar bersikap dan bertingkah laku seperti seorang wanita Amerika. Seperti first lady! Seperti seorang metropolit, karena Bibi punya anak yang pernah tinggal di Amerika. Busyet deh, apa Bibi ini kelihatan kayak orang Amerika.
ANEN
(GELISAH MENANTIKAN IKAH) Iya … iya. Bibi kelihatan hebat sekali. Dan … di mana dia sekarang?
BI ATANG
Siapa?
ANEN
Ikah! Apa Ikah ada di rumah?
BI ATANG
(MENDENGUS) Oooo … ada! Tentu saja dia ada di rumah. Ia sedang tidur!
ANEN
(SAMBIL MELIHAT JAM TANGANNYA) Masih tidur?!
BI ATANG
Ia, masih tidur! Kenapa? Heran? Kata dia orang-orang New York itu baru bangun setelah jam dua belas siang.
ANEN
(SAMBIL MELIHAT JAM TANGANNYA) Sekarang masih jam sepuluh.
BI ATANG
Di samping itu, ia juga sangat sibuk, sibuk sekali, anak itu sibuk bukan main sejak ia pulang. Ia berpuluh kali mengadakan pesta selamat datang. Di mana-mana, dan tamu-tamu tiada hentinya ke luar masuk, anak itu betul-betul bikin pusing orang tua!


ANEN
(BERTAMBAH SEDIH) Kalau begitu … tolong katakana saja kepadanya, bahwa saya telah datang ke mari, … untuk … untuk … mengucapkan selamat datang. Oh ya, tolong juga berikan bunga ini kepadanya.
BI ATANG
(MENERIMA BUNGA) Tapi kau jangan pergi dulu, Nen. Tunggu sebentar!
ANEN
(MANGGUT) Begini Bi, tadinya saya ingin ketemu sama Ikah, tapi kalau ia baru bangun setelah jam dua belas siang, yah …
BI ATANG
(BERGEGAS-GEGAS) Ia akan bangun sekarang juga dan akan bertemu dengan kamu Nen! Kenapa ia mesti belagu betul? Kamu sama diakan sama-sama dibesarkan di kampung ini! Duduklah Bibi mau membangunkan dia!
ANEN
Wah jangan Bi, jangan diganggu, biar saja. Lagi pula saya datang ke sini lain hari.
BI ATANG
Sudah! Kamu tunggu saja di sini. Ia malah akan senang sekali bisa ketemu teman lama waktu kecil., dan ia ingin sekali secara pribadi mengucapkan terimakasih atas pemberian bungamu ini. (MEMPERHATIKAN DAN MECIUM BUNGA ITU) Ah … alangkah indahnya buket bunga ini Nen, pasti mahal sekali harganya! (MENGERILIKKAN MATANYA DAN MASUK KE DALAM)
ANEN
(SAMBIL DUDUK) Ah itu bukan apa-apa, Bi Atang!
BI ATANG
(TERTAWA DAN TIBA-TIBA BERHENTI DI PINTU) Oh, ya Nen …
ANEN
Ada apa, Bi?
BI ATANG
Di depan dia nanti, kamu jangan manggil aku Bi Atang, ya!

ANEN
Lho, memangnya kenapa, Bi?
BI ATANG
Si Ikah tidak suka aku dipanggil Bi Atang, kampungan! Katanya, aku harus mengatakan kepada setiap orang supaya mereka memanggilku Nyonya Aldilla, dan katanya lagi, panggilan itu lebih beradab daripada Bi Atang. Maka dari itu, khususnya kalau di muka si Ikah kamu harus memanggilku Nyonya Aldilla, paham?
ANEN
Baik Bi Atang … eh maksud saya Nyonya Aldilla!
BI ATANG
Tunggu sebentar saja yah, aku mau memanggil Ikah. (MASUK)
ANEN
(MENARIK NAFAS) Hhhhhhhh! Ada-ada saja. Dasar orang kampung …!
BI ATANG
(TIBA-TIBA MUNCUL KEMBALI) Oh ya, Anen aku hampir lupa.
ANEN
Astaga. Ada apa lagi Bi Atang? Eh Nyonya … Nyonya siapa tadi?
BI ATANG
Nyonya Al – dil – lla.
ANEN
Oh ya, ada apa Nyonya Aldilla?
BI ATANG
Kamu jangan memanggil Ikah itu dengan “Ikah”.
ANEN
(BINGUNG) Lalu harus memanggil si Ikah dengan apa saya?
BI ATANG
Kamu harus memanggilnya dengan Francesca.
ANEN
Fransisca.
BI ATANG
Bukan, bukan Fransisca, tapi Fran – ces – ca.
ANEN
Tapi … kenapa mesti Francesca, Nyonya?
BI ATANG
Sebab, katanya, semua orang-orang di New York memanggilnya Francesca, begitulah cara semua orang Amerika mengucapkan namanya, dan ia menginginkan semua agar orang sini pun mengucapkannya demikian. Katanya nama itu kedengarannya begitu “ci –ci”, seperti orang Italia. Oh ya kamu tahu, bahwa di New York banyak orang menyangkanya berasal dari Italia? … Seorang Italia dari California, katanya, oleh karena itu, hati-hatilah dan ingat jangan memanggilnya Ikah, ia benci nama itu. Panggilah dia Francesca, biar dia girang.
ANEN
(MENJATUHKAN DIRINYA DI KURSI) Baiklah Nyonya Al – dil – llaaaaaaaaaa
BI ATANG
(HENDAK MASUK) Sekarang tunggulah di sini selagi aku memanggil Francesca. (TIBA-TIBA PINTU DEPAN DIKETUK ORANG) Eh … busyet deh tamu lagi!
ANEN
(BANGUN MENUJU KE PINTU) Biarlah saya yang membukanya Nyonya Aldilla.
BI ATANG
Katakana saja kepada mereka supaya menunggu!
(KETIKA PINTU DIBUKA, OTONG MASUK DAN MATANYA MELIHAT ANEN, IA SEGERA MEMELUK ANEN. DAN MEREKA BERPELIKKAN SAMBIL KETAWA BERDERAI)
ANEN
Elu Tong, gue kira siapa? (MEREKA SALING MEMUKUL PERUT)
OTONG
(KETAWA) Kunyuk loe!
ANEN
(KETAWA DAN MEMUKUL PERUT OTONG) Kebo loe!
OTONG
Bangsat, udah kaya loe sekarang ya?
ANEN
Kaya bapak moyang loe, lihat dong pakaian loe itu, kayak tambang emas (MEREKA KETAWA) Berapa kios nih loe sikat habis?
OTONG
Ho ho hoy, tunggu dulu, elu yang dicari polisi kemarin?
ANEN
Nggak mungkin, elu kali gua kan udah lama tobat!  
OTONG
(SAMBIL MENEPUK BAHU ANEN DAN BERJALAN BERKELILING SEPERTI BARIS) Minggir! Minggir! Kasih jalan buat jagoan Jelambar! Kalo bandel gue tembak. Dor! Dor! Dor! … ha … ha … ha … hoy!
ANEN
(SAMBIL MENDORONG OTONG DAN MENGELUARKAN ROKOK) Wah … menyenangkan betul kita bisa ketemu lagi ya? Kita jadi anak-anak kembali. Ayo mari merokok!
OTONG
(MENGAMBIL ROKOK) Aku kira kau masih di Karawang, Nen!
ANEN
Memang masih di sana Tong, aku ke sini cuma mau ngasih selamat sama si Ikah, diakan baru pulang dari luar negeri.
OTONG
(MEREKA MENYALAKAN ROKOK) Tapi aku dengar ada sesuatu yang tidak baik menimpa anak itu.
ANEN
(DUDUK) Akupun begitu juga, agak gawat katanya.

OTONG
(DUDUK) Kata orang-orang dia agak saraf, apa betul ya?
ANEN
(GELISAH) Ah enggak, itu sih omongan sentiment saja, yang betul sih dia baru pulang dari New York.
OTONG
Lalu ngapain dia jauh-jauh pergi ke sana?
ANEN
Anu, belajar, katanya.
OTONG
Belajar apa? Kuliah?
ANEN
Bukan, anu, belajar menata rambut dan kecantikan. Ia malah sudah dapat ijazah.
OTONG
Wah … hebat dong si Ikah sahabat kita yang tersayang itu.
ANEN
Tapi, maaf-maaf nih ya. Namanya sekarang bukan Ikah lagi, tapi Francesca.
OTONG
Fran – ces – ca?
ANEN
Nona Jelambar itu sekarang sudah jadi seorang nona New York, teman lama kita Ikah sekarang telah jadi seorang gadis Amerika yang modern.
OTONG
Si Ikah? (ANEN MENGANGGUK) Seorang Amerika? (ANEN MENGANGGUK) Yang bener lu! Jangan bikin aku ketawa, aku kan tahu sejak dia masih suka jualan kue apem di kampung ini?! BERDIRI MENIRUKAN ANAK PEREMPUAN JUAL APEM) Apem … ! Apeeemm! Apemmmm! Apemmm! Ayo siapa mau jangan bungkam!!!

ANEN
(TERTAWA) Kau ingat waktu dia didorong keselokan?
OTONG
(TERTAWA) Ia mengejar-ngejar kita sepanjang jalan bukan?
ANEN
Dan roknya basah kuyup kena lumpur, juga anunya!
OTONG
Dan bagero, anak itu pandai sekali, berantem!
(TERDENGAR PINTU DEPAN DIKETUK ORANG, OTONG SEGERA MEMBUKANYA DAN DARI LUAR FATIMAH MASUK, DIA ANAK GADIS SEORANG YANG CUKUP KAYA).
FATIMAH
Lho! Kok kamu ada di sini, Tong?
OTONG
(SAMBIL MERENTANGKAN TANGANNYA) O … Fatimah, gadisku semata wayang.
FATIMAH
(MEMELUK DAN MASUK) Lho! Anen juga! Apa-apaan ini? Memangnya sekarang ada reuni anak-anak berandalan dari Jelambar?
OTONG
Kami kumpul di sini untuk menyambut seorang wanita terhormat yang baru datang dari New York.
FATIMAH
Oh ya? Aku juga, apa dia ada di rumah?
ANEN
Bi Atang sedang mencoba membangunkannya.
FATIMAH
Membangunkannya? Busyet! Apa tengah hari begini dia masih bermimpi?

BI ATANG
(MUNCUL DARI DALAM) Tidak, dia sudah bangun dan sekarang sedang berpakaian, oh ya selamat pagi Fatimah, selamat pagi Otong.
(OTONG DAN FATIMAH SALING BERPANDANGAN. DENAGN MUKA LESU IA MENATAP BI ATANG YANG MEMBAWA VAS BUNGA KIRIMAN ANEN TADI. DAN BI ATANG DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH BERJALAN MELINTASI RUANGAN ITU YANG SEKETIKA MENJADI SUNYI DAN TIBA-TIBA OTONG BERSIUL DENGAN KURANG AJAR MENGGODA BI ATANG)
BI ATANG
Bagaimana Otong, Fatimah? Dibilang selamat pagi kok pada bengong, dan mengapa melihat aku dengan pandangan seperti itu?
FATIMAH
Ini Bi Atang atau siapa?
BI ATANG
Astagfirullah! Siapa lagi kalau bukan? Apa kalian sudah tidak bisa mengenal makhluk ini lagi? Ini kan Bi Atang, penduduk asli Jelambar yang terkenal itu! (MENJATUHKAN DIRI DI KURSI).
ANEN
Oh ya Tong, sekarang Bi Atang tidak boleh dipanggil Bi Atang, dia mau supaya kita memanggilnya Nyonya Aldilla.
OTONG + FATIMAH
Nyonya Aldilla?
BI ATANG
(MALU) Ah … kamu kan tahu sendiri, Nen. Bukan Bibi yang menginginkan panggilan itu. Tapi si Ikah, oh Francesca, oh ya ia senang sekali dengan bunga-bunga ini Nen, dan katanya ia mengucapkan banyak terimakasih atas kirimanmu ini. (MELIHAT FATIMAH). Dan kamu Fatimah, kalau tidak berhenti menganga begitu, aku cubit pantatmu!
FATIMAH
(TERTAWA) Wah … nggak mau, Bibi kan sering mencubit pantat saya sejak kecil dulu.


BI ATANG
Habis kamu nakal sih, setiap laki berantem sama si Ikah, kalian ini memang gerombolan anak nakal. (MENUNJUK OTONG) Apalagi makhluk yang ini, kalau Bibi meleng sedikit, mangga di belakang habis deh dicolong!
OTONG
(MELONJAK) Mari Fatimah! … mari kita curi mangga Bi Atang!
BI ATANG
Ayo! Coba saja kalau berani! Lariku ini masih secepat dulu lho, lihat saja nanti bagaimana aku membekuk kamu dan mencopot celanamu!
OTONG
(SAMBIL MEMANDANG CELANANYA) Wah … tidak apa-apa, sekarang saya pakai ikat pinggang Nyonya Al- dil – laaaaaaaaaaaa … !
BI ATANG
Wah … dasar bajingan, mari ikut aku ke dapur!
OTONG
Lho, mau apa? Mau membuka celana saya?
BI ATANG
Bukan blo – on! Aku minta tolong sesuatu.
FATIMAH
Eh … Bi Atang, jangan repot-repot kami kan bukan tamu, dan belum lapar.
BI ATANG
Jangan kuatir, Bibi mana mau ngasih makan kalian, Cuma sekedar air jeruk saja. Aku menyediakan buat Ikah, sebab kalau pagi-pagi ia tidak makan apa-apa. Katanya, di New York tidak ada seorang pun yang sarapan pagi-pagi, mari ikut Otong!
(BI ATANG DAN OTONG MASUK, TINGGAL ANEN DAN FATIMAH YANG TERDIAM BEBERAPA SAAT. ANEN DUDUK, FATIMAH BERDIRI DI BELAKANG SOFA)
FATIMAH
Bagaimana Anen?
ANEN
Seharusnya kau jangan datang hari ini Fat.
FATIMAH
Kenapa tidak boleh?
ANEN
Aku masih belum bicara dengan Ikah.
FATIMAH
Kau belum bicara sama Ikah? Bangsat! Aku kira tadi malam kau sudah bicara di sini!
ANEN
Aku kehilangan keberanian dan tadi malam aku tidak ke sini.
FATIMAH
Oh … Anen … Anen!
ANEN
(TERSINGGUNG DAN MENIRUKAN GAYA FATIMAH) Oh … Fatimah … Fatimah! Pakai otak Fatimah! Setiap orang akan menglami kesulitan seorang lelaki yang harus memutuskan pertunangannya, itu bukan sebuah hal yang biasa, dan … ya Tuhan … itu bukan soal gampang.
FATIMAH
(MENYERANG) Kamu mencinati si Ikah atau aku?
ANEN
Tentu saja aku mencintaimu, Fatimah, kitakan sudah bertunangan juga.
FATIMAH
(GETIR) Iya, dan kamupun bertunangan pula dengan si Ikah!
ANEN
Tapi itukan setahun yang lalu!
FATIMAH
(MARAH) Dasr laki-laki! Bajingan! Anjing hutan kau! (PERGI).
ANEN
(BANGKIT DAN MENGIKUTI) Fatimah! Kamu kan tahu kalau hanya engkau yang tercinta!
FATIMAH
(BERBALIK) Lalu kenapa kamu berani-beraninya meminangku padahal kau sudah bertunangan dengan si Ikah?!
ANEN
(MENYESAL) Ah … seharusnya aku tidak usah mengatakannya kepadamu dan inilah akibat aku terlalu jujur kepadamu!
FATIMAH
Apa? Jujur? Kamu menganggap dirimu jujur heh? Jujurkah kamu yang memancing-mancing aku jatuh cinta kepadamu sedang kamu masih menjadi milik si Ikah?!
ANEN
Aku … aku kira, aku sudah bukan menjadi milik Ikah lagi pula pertunangan kami itu hanyalah pertunangan pribadi yang rahasia saja sifatnya, aku meminangnya tepat sebelum dia pergi ke New York, dan dia sendiri bilang bahwa pertunangan itu harus bersifat rahasia sampai sekembalinya ia dari Amerika. Tetapi, setelah beberapa bulan ia berada di sana, surat-suratpun tak pernah dibalasnya lagi, oleh karena itu kuanggap diriku telah bebas.
FATIMAH
(MENGGERUTU) Lalu kau meminang aku?
ANEN
(MEMBELA) Lalu aku meminang kau …!
FATIMAH
Dan kemudian menyuruhku merahasiakan pertunangan kita ini bukan?
ANEN
Karena segera sesudah pertunangan kita, aku mendengar kabar bahwa Ikah telah pulang dari Amerika.
FATIMAH
Aku tidak tahan bertunangan dengan kau kalau caranya begini, lalu apa gunanya bertunangan kalau tidak boleh diumumkan kepada orang lain.

ANEN
Berilah sku kesempatan sekali saja berbicara dengan Ikah, untuk menjelaskan duduk perkara sebenarnya. Sesudah itu kita akan mengumumkan pertunangan kita.
FATIMAH
Tetapi lekaslah, aku sudah tidak sabar lagi.
ANEN
Tapi, sulit, bagaimana aku bisa membicarakannya dengan dia sekarang ini?
FATIMAH
Kenapa?
ANEN
Sebab kau dan Otong ada di sini, dan tentunya kau tidak mengharapkan agar aku menampik Ikah di muka umum bukan?
FATIMAH
Kau ingin aku dan Otong pergi?
ANEN
Tidak … tidak usah, hanya berilah aku kesempatan untuk bicara dengan Ikah barang sebentar saja.
FATIMAH
Baiklah, tentang Otong serahkan saja kepadaku.
ANEN
Baiklah.
(OTONG MUNCUL DARI DALAM DENGAN BAKI YANG BERISI BEBERAPA GELAS DAN TEMPAT AIR DI ATAS KEPALANYA)
OTONG
(BERPUTAR-PUTAR MENIRUKAN IKAH JUAL KUE) Appeeemmm … apemmm … apemmmnya siapa mau …jangan bungkemmmmmmm … !!!
(BI ATANG MUNCUL MEMBAWA ROTI-ROTI KECIL)

BI ATANG
Para tamu sekalian, mohon perhatian … Ikah akan segera tiba kehadapan kalian, tetapi ia lebih suka dipanggil Francesca!
(IA MENYISIH KE SAMPING, IKAH MUNCUL, IA MENGENAKAN GAUN YANG MENGESANKAN DIHIASI KULIT BINATANG BERBULU PADA LEHERNYA. SEBELAH TANGANNYA MENGAYUN-AYUNKAN SEHELAI SAPU TANGAN SUTRA YANG SELALU DILAMBAI-LAMBAIKAN APABILA BERJALAN ATAU BICARA TANGAN LAINNYA MENJEPIT PIPA ROKOK YANG PANJANG, DENGAN ROKOKNYA YANG BELUM DINYALAKAN DAN INILAH GAYA HOLLYWOOD YANG GILA ITU)
IKAH
(SETELAH BERHENTI CUKUP LAMA DI MUKA PINTU, IA LALU MENGANGKAT TANGANNYA DENGAN SIKAP TERCENGANG DAN GIRANG HATI) Oh … halloo, halloo teman-temanku sayang …! (IA MELUNCUR KE TENGAH DAN SEMUA TERBELALAK KEHERANAN MENYAKSIKAN PEMANDANGAN INI) Hallooo … Fatimahku saying, betapa jelitanya kau sekarang ini! (MENCIUM FATIMAH) Dan Anen, teman kecilku yang manis, bagaimana kabarmu sekarang ini? (MENGULURKAN TANGANNYA TAPI ANEN DIAM SAJA) Dan kau Otong, aduuh, aduuuuh betapa menariknya engkau sekarang ini anak nakal! (MENCUBIT OTONG DAN IA MENGELILINGI OTONG NAMPAK KETAKUTAN) Ci – ci … ! Kau dengan pakaian begini ini sungguh-sungguh laksana produser super dari Jelambar dalam tata warna yang indah dari warna aslinya! Ayo teman-temanku tersayang, silahkan duduk … duduklah kalian dengan baik, biar aku bisa melihat kalian dengan sejelas-jelasnya. (KETIKA KETIGA TAMU ITU DUDUK, DILIHATNYA BAKI DENGAN GELAS-GELAS DI ATAS MEJA, LALU IA MENGAYUNKAN TANGANNYA MENGERIKAN TETAPI NAMPAK MENYERAMKAN) Oh … Mamie, Mamie!!
BI ATANG
Ada apa saying?
IKAH
Berapa kalikah harus aku katakana, Mamieku malag, bahwa sekali-kali jangan menghidanglkan air buah-buahan dengan gelas air biasa?
BI ATANG
Tapi … aku tidak bisa menemukan gelas-gelas tinggi pesananmu itu.
IKAH
(MENGHAMPIRI BI ATANG DAN MENCIUMNYA) Oh Mamieku malang … (KEPADA BI ATANG) Ia begitu canggung bukan? Tapi tak apalah saying, jangan bersedih hati mari, duduklah bersama kami.
BI ATANG
Oh tidak usah, tidak usah, terimakasih anak Mamie, aku harus pergi ke pasar.
IKAH
Oh ya? Jangan lupa daun seledriku itu ya Mam? (KEPADA BI TETAMU) Terus terang, aku tak dapat hidup tanpa seledri, maklum baru datang dari Amerika. Aku ini bagai kelinci saja, memamah terus sepanjang hari.
BI ATANG
Nah, anak-anakku, maafkan aku harus meninggalkan kalian sebentar, dan Anen, jangan lupa salamku buat ibumu! (MASUK)
IKAH
Dan jangan lupa Mamie, dengan sedikit olesan pada bibir, sedikit olesan pada pipi.
BI ATANG
(BERBALIK) Aduh Ikah, haruskah aku … ?
IKAH
Apa? Ulangi lagi Mamieku malang … !
BI ATANG
Haruskah aku yang sudah keriput ini memakai gincu, Francesca?
IKAH
(TERTAWA LALU MENGALIHKAN PANDANGAN KEPADA TETAMU) Tetapi … betapa mengerikannya ia memberikan gambaran tentang make up itu. Oh Mamieku malang, lalu apa yang harus aku perbuat kepadamu sekarang?
BI ATANG
(KE LUAR) Baiklah … baiklah aku menyerah, lihat mengerikan bukan?
IKAH
(SETELAH BI ATANG PERGI) Mmieku malang, ia ternyata menjadi masalah yang agak pelik juga bagiku. (MELAMBAIKAN PIPA ROKOKNYA) Ow adakah di antara kalian yang memiliki korek api? (OTONG SEGERA MELOMPAT DAN MENYALAKAN KOREK APINYA)
IKAH
(SETELAH MENYALAKAN ROKOKNYA) Merci!

OTONG
Hah?
IKAH
M e r c i, kataku. Artinya terimakasih, itu bahasa Perancis.
OTONG
(SAMBIL DUDUK) M-e-r-c-I … !
9IKAH DUDUK DI LENGAN SOFA, IA MENGAMBIL GELAS DAN MEMINUM DENGAN GAYANYA)
FATIMAH
Ceritakanlah kepada kami tentang New Yorkmu itu Francesca. Kami ingin sekali mendengarnya.
IKAH
(PENUH SUKA CITA) Ah … New York, New York impianku … !
ANEN
Berapa lama kau tinggal di sana Francesca?
IKAH
(SEPERTI KESURUPAN) 10 bulan, 4 hari, 7 jam, dan 20 menit.
OTONG
(KEPADA TETAMU) Dan ia masih berada di sana juga hingga sekarang, juga mimpi-mimpinya!
IKAH
(PENUH EMOSI) Benar, aku merasa seolah-olah diriku ini masih berada di sana. Seakan-akan aku tak pernah pergi meninggalkannya, seakan-akan aku telah hidup di sana seumur hidupku, oh New Yorkku tapi kalau aku melihat kesekitarku ini (IA MELIHAT KESEKITAR DENGAN GETIR) aku baru sadar, bahwa bukan, bukan aku masih di sana, aku tidak lagi berada di New York, tapi disebuah kampung yang kotor dan udik, Jelambar … ! (TIBA-TIBA IA BANGUN DAN PERGI KE JENDELA DAN MEMANDANG KE LUAR) Aku berada di rumahku yang dulu, kata orang-orang di rumah, tapi yang manakah sesungguhnya rumah itu bagiku? Yang manakah tempat tinggal pantas untukku? Karena di sini aku senantiasa dirundung malang terus menerus. Aku rindu senantiasa rindu kepada rumahku yang sungguh-sungguh rumah yang pantas bagiku, New York! Aku di sini merasa terasing, bahkan diasingkan oleh kelompok orang yang pernah mengerti aku yang sesungguhnya dan inilah pengasingan rohaniah itu, jiwaku sakit setiap kali aku merindukan rumahku nun di seberang lautan sana, oh … New Yorkku tersayang … ! (IA TERDIAM DAN MEMANDANG KAKI LANGIT DENGAN KEDUA TANGANNYA BERPANDANGAN TAK MENGERTI).
FATIMAH
(KEPADA TEMAN-TEMANNYA) Ah … kukira kita ini tak seharusnya berada di tempat ini, kawan-kawan, kita ini asing bagi nona New York yang luar biasa ini.
ANEN
Benar katamu, seharusnya kita tidak mengganggu mimpinya yang amat edan ini.
OTONG
Kalau begitu,mari kita ke luar saja dari sini, tapi secara diam-diam.
FATIMAH
Dan biarkanlah dia terus mengoceh dengan segala macam impian-impiannya.
ANEN
(SAMBIL MEMPERHATIKAN IKAH) Apa anak gadis ini sungguh-sungguh Ikah yang dulu jualan apem itu? Aku pikir dia ini Ikah jadi-jadian.
OTONG
(MENIRUKAN GAYA IKAH) Oh New yorkku saying … ! oh New Yorkku tersayang … !
IKAH
(SAMBIL JALAN PUTAR-PUTAR) Dengar … dengarlah kata-kataku ini sahabat-sahabatku yang udikan … ! sekarang ini New York musim semi … musim semi jatuh di New York! Bunga-bungaan baru saja bermunculan aneka warna di Central Park. Di Staten Island, rumput-rumputan menghijau bak permadani. (TERTAWA KECIL) Oh … kami mempunyai kebiasaan lucu di  New York, aduuh lucunya! Suatu kebiasaan yang sudah sangat tua sekali dan menyenangkan. Apabila musim semi tiba setiap tahun, kami orang-orang New York yang terkenal itu pergi kesebuah pohon tua yang tumbuh dekat meriam, semacam ziarah, katakanlah begitu, dan itulah satu-satunya pohon yang tumbuh sejak New York itu bernama New York, dan kami orang-orang New Yorkyang menyebut pohon terkenal itu “pohon kita”. Setiap kali musim semi tiba, kami pergi ke tempat itu untuk mengucapkan selamat kepada pohon kita itu, sambil berjaga-jaga menantikan bertunasnya helaian daun hijau yang pertama kali, dengan begitu, pohon itu telah menjadi lambing bagi kami, tentang New York yang terkenal itu. Ia tak pernah mati. Ia senantiasa abadi tumbuh dan tumbuh dengan setianya (IA TERSADAR DAN TIBA-TIBA TERSADAR DARI MIMPINYA) Tetapi maaf, maafkan aku kawan-kawan, aku telah menuruti perasaanku saja. Dan pikiranku terlalu jauh menerawang kepada hal-hal yang tak mungkin bisa kalian bayangkan sebagai orang Jelambar. Tidak pasti kalian tidak akan bisa merasakan bagaimana perasaanku terhadap pohon kita yang kini berada nun jauh di sana, di seberang lautan.

FATIMAH
O … tidak, aku pasti dapat merasakan perasaanmu itu. Bahkan aku bisa memahami emosi itu dengan sepenuh hati. Aku juga punya perasaan yang sama terhadap “pohon kita” mu itu.
IKAH
(TAK MENGERTI) Pohon apa?
FATIMAH
Pohon mangga kita Ikah, apakah kau telah melupakannya? Dan bukankah engkau dan aku yang senantiasa memanjatnya setiap hari dan mengerogoti mangga muda itu seperti kalong? Dan yang sesudahnya senantiasa perut kita menjadi mules dan perut kita mencret-mencret? Lalu kedua anak badung yang jahat ini datang mengganggu kita dengan mengguncang-guncangkan dahan itu sehingga kita jatuh bergulingan di rumputan?!
OTONG
Benar! Dan pernah Bibi Atang menangkap aku ketika aku memanjat pohon itu dan ia menarik-narik ujung celanaku sampai merosot dan tinggal anuku bergelantungan di atas pohon! (TERTAWA).
ANEN
Iya, benar Ikah! Pada waktu itu aku pun berada di atas pohon dan saking kerasnya aku tertawa, sampai-sampai akupun terjatuh ke bawah pula.
FATIMAH
Betul, dan ketika itupun Bi Atang mengejar-ngejar kamu berkeliling kebun sampai kamu tertangkap dan kepalamu dipukulnya dengan gagang sapu sampai bocor, dan kamu menjerit-jerit kesakitan.
OTONG
Dan aku sendiri, aku tak bisa turun dari pohon itu, karena aku tak pakai celana.
FATIMAH
Dan aku serta Ikah berguling-guling di rumputan karena melihat burungmu yang kocar-kacir! (MEREKA TERTAWA TERBAHAK-BAHAK KECUALI IKAH YANG TERCENUNG MELIHAT TEMAN-TEMANYA ITU).
IKAH
Tetapi … tunggu, pohon apa yang sedang kalian bicarakan ini?
FATIMAH
Pohon mangga kita, Ikah. Pohon mangga ibumu yang tumbuh di halaman belakang rumah ini.
IKAH
(DATAR) O … pohon itu.
ANEN
Kenapa Ikah? Apakah perasaanmu itu tidak sama dengan perasaanmu terhadap pohon yang yang tumbuh di New York yang terkenal itu?
IKAH
(SENGIT) Tentu saja tidak monyong!
FATIMAH
Lho! Kenapa tidak?
IKAH
Kedua pohon itu jelas berbeda! Beda sama sekali. Seperti langit dan bumi bedanya. Perasaanku tak tergerak sedikitpun oleh pohon mangga kalian yang tua dan pander itu. Ia sama sekali tak membangkitkan ingatan apapun dalam kenang-kenanganku!
FATIMAH
Justru sebaliknya. Bagiku, pohon itu telah begitu banyak membangkitkan kenangan-kenangan masa kecil yang mengharukan, dan kenangan-kenangan itu begitu membahagiakan dan begitu mengesankan dalam kehidupanku kini. Setelah kita masing-masing dewasa dan mampu berdiri sendiri! Sungguh! Aku sungguh-sungguh tak bisa melupakan pohon mangga itu. Oleh karenanya, mari kita segera menjumpai pohon tua itu untuk mengucapkan selamat kepadanya. (DENGAN MENIRU GAYA IKAH) Kau tahu Ikah, di sini, di Jelambar, kami mempunyai sebuah kebiasaan lucu. Aduuuuuuh … lucunya! Suatu kebiasaan yang sudah sangat, bahkan sangat tua sekali dan menyenangkan. Kami, orang-orang Jelambar yang kampungan ini, seringkali pergi mengunjungi pohon mangga yang tua dan pander di belakang rumah ini. Semacam ziarah, katakanlah begitu. Dan itulah satu-satunya pohon mangga yang tumbuh di rumah ini, sejak Jelambar bernama Jelambar. Dan kami orang-orang Jelambar yang terkenal itu, menyebut pohon mangga tua dan pandir itu sebagai “pohon kita”. Dengan begitu, pohon itu telah menjadi lambing bagi kami, tentang Bibi Atang yang terkenal itu …
IKAH
(MENYELA) Jangan sebodoh itu Fatimah! Kamu jangan menyama-nyamakan pohon kitamu itu dengan pohon kitaku!
OTONG
Perhatikan, siapa yang sedang bicara ini!
IKAH
(PUTUS ASA) Oh … kalian sungguh-sungguh bebal. Kalian tak bisa mengerti sama sekali. Dan kalian tidak bisa menghargai perasaanku terhadap pohon itu …
ANEN
Tentu saja tidak bisa Neng! Kami kan belum pernah ke New York!
IKAH
(SUNGGUH-SUNGGUH) Tepat! Justru itu sebabnya! Selama kalian belum pernah menginjakkan kaki-kaki kalian yang buruk itu ke bumi New York yang suci murni itu, selama itu pula kalian tidak akan, tidak akan mengerti nostalgia semacam itu. Sungguh … ! percayalah padaku, kalian tidak akan pernah mengerti! Sebab, bagiku, tidak pernah menginjak persada New York, sama saja dengan tidak pernah hidup di dunia ini! Pohon kami yang di New York itu … bukanlah sebuah permainan anak-anak, atau untuk olok-olok kekanak-kanakan! Pohon itu telah ditakdirkan bagi segala hal yang tinggi-tinggi dan indah. Bagi cara dan gaya hidup yang lebih bersemangat dan lebih modern, yang lebih metropolitan dan lebih berani. Pohon itu ditakdirkan bagi kemerdekaan umat manusia, dan bagi pencakar-pencakar langit di Manhattan, bagi Copacabana dan bagi Coney Island dimusim panas. Bagi makam Grant di Riverside Drive dan bagi Selasa-Selasa malam di Eddie Condons bersama Will Bill Davidson yang asyik masuk dengan terompet mautnya. Dan bagi malam minggu malam minggu di Madison Square Garden bersama berjubelnya orang-orang yang melimpah ruah di kiri-kanan jalan. Dan bagi kebun binatang Bronx, serta bagi Macys, dan bagi perahu tambang yang murah ke Staten Island. Dan bagi pawai Hari st. Patrick di Fith Avenue. Dan bagi semua rumah-rumah tinggal elite di Greenxch Village. Dan bagi teater-teater urakan Peter Brook dan Sehechner di off Broadway dan off-off Broadeay! Dan bagi … (IA BERHENTI DENGAN GETARAN DAN KENANGAN) Oh … bagi segalanya yang tak mungkinlah bagi kalian untuk bisa membayangkan dan membandingkannya dengan kehidupan kalian di Jelambar yang jorok ini!
ANEN
Tetapi aku tetap lebih suka kepada, pohon mangga di sini.
OTONG
Aku juga, bagiku, aku tak bisa melupakan kenangan-kenangan itu setiap aku membuka celanaku!
FATIMAH
Dan aku? Aku tak pernah bisa melupakan burungmu itu Tong!
IKAH
(DENGAN TOLERANSI SEORANG FIRST LADY) Oh, kalian ini anak-anak kampung yang lucu dan nakal-nakal!

FATIMAH
Tapi aku harus sungguh-sugguh pergi dan mengucapkan selamat kepada pohon kami itu Ikah. Kau tak keberatan bukan?
IKAH
O … tentu saja tidak Nak, pergilah!
FATIMAH
Otong, kau mau ikut?
OTONG
(PENUH SEMANGAT) O … tentu saja, tentu saja aku harus memberikan selamat kepadanya. Bahkan sampai ke ujung duniapun aku akan ikut ke mana engkau pergi anakku … !
                FATIMAH
(MENIRU GAYA IKAH) Ow … ! tidak akan sejauh itu saying … ! Hanya ke belakang saja. Itulah tempat kita yang begitu menakjubkan dan penuh kenangan. Tidak usah pergi keseberang lautan, karena di sini … aduuuuuh … lucunya !
OTONG
(MENIRU GAYA IKAH) Oh … halaman belakang rumah Jelambar! Bagiku, tak pernah menginjakkan kaki di Jelambar ini, sama saja dengan tidak pernah hidup di dunia ini!
FATIMAH
Heh! Monyong! Mau ikut enggak lu?
OTONG
Ke mana pun engkau pergi juwitaku, gadis impianku, ke sanalah aku jadi buntutmu! (MEREKA MASUK)
IKAH
(SAMBIL DUDUK) Kelihatanya si Otong kita itu masih juga begitu meluapnya mencurahkan rasa cintanya kepada si Fatimah. (ANEN DIAM) Bngunlah Anen! Jangan seperti patung Rodin begitu. Dan amboi … kenapa wajahmu begitu tampak menyedihkan?
ANEN
(SETELAH BERHASIL MENGUMPULKAN KEBERANIANNYA) Ikah … justru aku tak tahu bagaimana aku harus memulainya …

IKAH
Panggil saja aku Francesca, itu sudah merupakan langkah pertama yang baik.
ANEN
Ada sesuatu yang harus aku sampaikan kepadamu Francesca. Sesuatu yang sangat penting dan urgent.
IKAH
O … itu Nen. Tetapi tidakah akan lebih baik apabila kita lupakan saja persoalan kita dulu?
ANEN
Melupakannya?
IKAH
Ya, itulah gaya New York, Anen. Lupakanlah! Tidak ada sesuatu pun yang harus dihadapi dengan berkerut-kerut dahi. Tidak ada sesutupun yang harus kita selesaikan secara berlebih-lebihan. Kita jangan terlalu banyak membuang-buang waktu, karena di Amerika bahkan hampir seluruh bagian muka bumi, kita telah dilanda krisis dan energy. Oleh karenanya, mala mini, berikanlah seluruh hatimu dan seluruh kejantananmu kepadaku, besok lupakanlah! Dan apabila kita berjumpa lagi, senyumlah, berjabatan tangan dan anggaplah semua itu sebagai sebuah permainan yang amat menyenangkan. Itulah gaya New York.
ANEN
Kau ini lagi ngomong apa Fra-ces-ca?
IKAH
Anen, pada waktu itu kau masih kekanak-kanakan. Aku belum dewasa, karena aku belum ditempa oleh udara New York.
ANEN
Kapan?
IKAH
Ketika kau dan aku bertunangan dulu. Sebab, sejak saat itu, sudah banyak sekali yang berubah pada diriku, Anen.
ANEN
Tapi … itukan baru saja setahun yang lalu?

IKAH
Bagiku satu tahun seolah-olah sudah seabad, Anen, telah begitu banyak yang berubah dalam diriku dan gaya hidupku. Lagipula, apalah artinya setahun? Atau apakah artinya seseorang? Itu hanya istilah-istilah tentang waktu yang nisbi belaka. Dan akanlebih banyak lagi yang akan menimpa dirimu yang akan merubah pribadimu apabila kamu setahun saja tinggal di New York, disbanding dengan hidup kamu seumur-umur di tempat lain, kau tahu kekasihku yang cupet, bahwa aku merasa seakan-akan aku telah hidup lama sekali di New York, dan secara rohaniah, aku masih tetap merasa sebagai penduduk Manhatton, hingga sekarang. Dan kau tahu, ketika pertama kalinya menginjak Manhattan, aku merasa seakan-akan aku pulang ke tanah air sendiri, karena di situlah kandangku yang sebenarnya, ow! Dengarlah musim panas yang lalu itu, sungguh-sungguh panas … rasanya. Itulah salah satu musim panas yang pernah kami alami, yang paling panas lalu aku pergi naik sebuah bis kota bertingkat dua, hanya sekedar untuk mencari angin. Dan semua orang dari Kalamazoo dan People dengan tempat-tempat lainnya yang semacam itu, pergi berkeliaran di jalanan. Pelesiran, kau tahu, dan di situ, aku duduk di puncak bis kota memandangi mereka ke bawah dan amat menyenangkan menyaksikan etalase-etalase took yang gemerlapan. Dan akupun merasa amat bangga pula, karena tokokulah yang mereka kagumi itu. Tapi aku merasa amat kasihan juga kepada mereka, karena tempat tinggal mereka di pinggiran kota yang jorok serti di sini.
ANEN
Sudahlah, stop saja omonganmu itu. Aku tak ingin bicara tentang New York atau Manhattan. Aku mau bicara tentang hubungan kita selanjutnya.
IKAH
Dan itulah yang tak bisa kita lakukan. Anenku malang, karena kita tidak perlu lagi bicara soal masa kecil yang tolol seperti itu.
ANEN
Kenapa tidak?
IKAH
Anen, kau telah bertunangan dengan seorang gadis yang bernama Ikah. Nah, kau tahu gadis itu kini telah tiada lagi. Dia sudah lama mati. Sedang yang kau hadapi sekarang ini bukan Ikah, tapi Francesca! Mengerti?! Dan tahukah kau Anenku yang udik, bahwa engkau kini adalah orang asing bagiku? Dan tahukah engkau jejaka Jelambar bahwa aku merasa jauh … jauh lebih tua dari kamu?! Aku sesungguhnya adalah wanita dunia dank au? Kau hanyalah seorang anak ingusan dari Jelambar yang tak tahu kebersihan! (PAUSE) Tapi, aku tidak bermaksud untuk melukai hatimu, Anen, dan kuharap kau bisa mengerti akan maksudku, bahwa kini tak ada lagi yang bisa kita bicarakan tentang sebuah pertunangan antara kita dulu. Dan kau tahu, bahwa bahwa kita tak akan bisa melangsungkan pernikahan kita, karena itu hanyalah merupakan pemblestoran belaka. Bayangkan, bagaimana mungkin seorang penduduk New York bisa menikah dengan seorang laki-laki dari Jelambar! Itu akan menjadi sebuah lelucon dunia saja!
ANEN
(MARAH) Tapi, coba kau lihat, sekelilingmu ini nona New York?!
IKAH
(SANGAT TOLERAN) Ow! Maafkan jika aku telah melukai hatimu, Anen. Ucapan-ucapan tadi, hanyalah didorong oleh keinginan baik dari lubuk hatiku, agar anda tidak mempunyai pikiran yang bukan-bukan tentang bahwa aku masih tetap bertunangan dengan anda.
ANEN
(BANGKIT) Bangsat! Aku duduk di sini bukannya untuk dihina dicaci maki seperti itu nona gatal!
IKAH
Excuse me mister Anen! Maaf janganlah berteriak-teriak begitu, janganlah menjadi orang yang lekas naik darah, karena itu sama sekali tidak beradab bagi seorang modern. Setidak-tidaknya bagi mereka yang tergolong high mociety, bagi orang-orang intelektual, tindakan semacm itu adalah tindakan barbar.
ANEN
(KERAS) Lalu apa yang kau harapkan dariku ini babi?! Tersenyum dan mengucapkan terimakasih atas penghinaanmu yang kelewatan itu miss kobelan?! PU AH! …
IKAH
Tersenyum? Memang begitu seharusnya mister Anen, jadikanlah itu senda guraumu. Tersenyumlah dan mari berjabat tangan sebagai seorang kamerat setia, bukanlah demikian seharusnya?! (ANEN DIAM DENGAN GERAM) Tabahlah, Anen … lupakanlah itulah gaya New York, dan carilah gadis lain yang sesuai dengan peradaban kamu. Sebagaimana kata-kata orang Brooklyn, masih banyak pacar-pacar lain, kau akan segera menemukan gadis lain … seseorang yang cukup menyamai kebiadabanmu.
ANEN
(SAMBIL MENGEPALKAN TINJUNYA) Setan! Seandainya kau bukan perempuan seandainya kau bukan … sudah ku … sudah ku ... !
OTONG DAN FATIMAH MUNCUL)
OTONG
Jangan Anen, jangan sekali-kali memukul perempuan!
FATIMAH
Apa artinya semua ini?
IKAH
Oh … never mind, never mind, taka pa-apa sama sekali dia hanya mengulang pengalaman masa kecil.
OTONG
Lalu apa yang sedang kalian pertengkarkan barusan?
IKAH
(TERSENYUM) O … kami tidak bertengkar, Anen dan aku baru saja memutuskan untuk berteman baik saja, tidak lebih dari itu.
FATIMAH
Benar, Anen?
ANEN
(GEMAS) Benar!
FATIMAH
(GIRANG) Wah, bagus! Sekarang sudah tiba saatnya kita umumkan kepada mereka, Anen!
IKAH
Pengumuman apa Fat?
OTONG
(BINGUNG) Lho … lho … lho, apa-apaan ini?
FATIMAH
(MENGGANDENG ANEN) Anen dan aku sudah bertunangan!
IKAH
(BANGKIT SERENTAK) Apa? Bertunangan?
OTONG
Ber-tu-na-ngan?!
FATIMAH
Benar, kami telah melangsungkan pertunangan kami secara diam-diam sejak sebulan yang lalu.

IKAH
Sebulan? (MARAH KEPADA ANEN) Bngsat! Kenapa kau … kenapa kau … !
ANEN
(MUNDUR) Tapi … aku telah berusaha menjelaskan semuanya kepadamu Ikah, dank au sendiri … kau sendiri …
IKAH
(MENJERIT) Biadab kau!
FATIMAH
Hah! Awas! Jaga mulutmu Ikah! Kau bicara dengan tunanganku!
IKAH
Dia bukan tunanganmu!
FATIMAH
Lho … kenapa bukan?
IKAH
Dia bukan tunanganmu! Bukan karena dia masih bertunangan denganku waktu kalian bertunangan!
FATIMAH
Tidak! Dia sudah tidak bertunangan lagi dengan kau! Baru saja kau sendiri yang mengatakannya kepada kami!
IKAH
(MENYESAL) Iya … tapi itu karena kau belumtahu duduk perkaranya. Aku tidak tahu tentang penghianatan ini! Ci! Tidak tahu mana bertunangan dengan kau padahal dia masih bertunangan dengan aku! Perempuan tidak tahu diri! Perempuan murahan! Apa aku tak boleh menolak apabila seorang lelaki yang aku cintai mencintai temannya pula?! (MENDEKATI ANEN) Dan kau! Bangsat! Jahanammmm!
ANEN
(MUNDUR LAGI, LALU MENIRUKAN GAYA IKAH) Excuse miss Francesca, maaf janganlah berteriak-teriak begitu, janganlah menjadi orang yang lekas naik darah, karena itu sama sekali tidak beradab bagi seorang modern, setidaknya bagi mereka yang tergolong high society, bagi orang-orang intelektual, tindakan itu semacam tindakan barbar!

IKAH
(MENANGIS) Oh … aku tak pernah merasa terhina seperti ini selama hidupku! Kamu binatang! Aku hajar kamu yang berani-beraninya menghina aku!
FATIMAH
(MEMANDANGI IKAH) Ikah! Aku peringatkan kepadamu! Jangan ganggu dia! Dia adalah tunanganku!
IKAH
Dan aku peringatkan kepadamu! Dia adalah tunanganku sebelum aku putuskan hubunganku dengannya! Dan aku belum memutuskannya! Mengerti?!
FATIMAH
Seharusnya kau malu kepada dirimu sendiri Ikah! Kenapa kau tak rela menyerahkan orang lain yang tak berguna bagi dirimu sendiri dengan baik-baik?
IKAH
Seharusnya kaulah yang harus malu kepada dirimu sendiri, merebut tunangan orang di belakang punggungnya!
FATIMAH
(MAJU) Apa? Apa katamu?!
ANEN
(DARI JAUH) Otong! Tolonglah! Pisahkan mereka itu!
IKAH
(KETIKA ORANG MENDEKAT) Diam kau! Kau jangan ikut campur urusan ini! Atau aku kemplang otak kepalamu!
OTONG
Busyet! Dasar anak-anak Jelambar! Main kemplang aja bisanya!
FATIMAH
Cewek nggak tahu malu!
IKAH
Elu yang nggak tahu malu! Ngerebut gacoan orang!
FATIMAH
Apa loe bilang?! Gue jambak loe!
(MERKA BERGULAT SALING JAMBAK DAN SALING PUKUL DENGAN MAKI-MAKIAN OTONG DAN ANEN BERSUSAH PAYAH MEMISAHKAN MEREKA. DAN AKHIRNYA MEREKA TERLEPAS SETELAH IKAH BERHASIL MENAMPAR FATIMAH, LALU DENGAN MARAH FATIMAH MERONTA DARI GENGGAMAN ANEN IA BERHASIL MENCAKAR IKAH YANG DIPEGANG OTONG FATIMAH TERLEPAS DAN MEMUKUL IKAH SAMPAI ROBOH, ANEN MEMBURU TETAPI TERLAMBAT, LALU ANEN DENGAN MARAH MERENGGUT FATIMAH DENGAN KERAS)
FATIMAH
Habis dia yang memukul duluan!
ANEN
Lihat tuh! Apa yang telah kau perbuat padanya itu?!
(OTONG MEREBAHKAN IKAH DI KURSI)
FATIMAH
Pasti membela dia! Selalu membela dia! Tak pernah bela aku laki-laki macam apa itu!
ANEN
Diam! Tutup mulutmu!
FATIMAH
Aku benci! Aku benci kau! Akubenciiiiii … !!!
ANEN
Tutup mulut kataku! Atau kuremas-remas mulutmu nanti!
OTONG
(MELIHAT FATIMAH LALU MENINGGALKAN IKAH DAN MEMBURU ANEN) Kau jangan gila! Jangan seenaknya saja sama Fatimah!
ANEN
Diam! Kau jangan turut campur! Ini urusan pribadi!
FATIMAH
Lihat! Otng lebih ksatria dari pada kau! Dia mau membelaku.
OTONG
(KEPADA ANEN) kau jangan coba-coba sentuh Fatimah, yah!
ANEN
Aku bilang kau jangan ikut campur bangsat!
OTONG
Apa? Rasain nih! (MEMUKUL ANEN SAMPAI RUBUH)
FATIMAH
(BANGKIT DAN MEMELUK OTONG) Otong … ! kau telah menyelamatkan aku. Kau baik sekali! Kau … (MENANGIS)
(SEMENTARA ANEN JATUH IKAH LALU BANGKIT DAN BERLUTUT DI SAMPING ANEN)
IKAH
(MENANGIS) Anen! Anen! Kamu tidak apa-apa bukan? Bukalah matamu! Aku cinta padamu … !
ANEN
(BANGKIT LALU MENYINGKARKAN TANGAN IKAH) Pergi! Pergi! Jangan sentuh aku lagi!
(IKAH DENGAN ANGKUHNYA BANGKIT DAN PERGI KE JENDELA, ANEN DUDUK DI LANTAI DAN TERMANGU)
OTONG
Tapi kau masih bertunangan dengan Anen bukan?
FATIMAH
Tidak! Aku benci padanya! Aku tak ingin melihat lagi seumur hidupku! (MEMBUKA RINGNYA DAN MELEMPARKAN KEPADA ANEN) Ini! Aku kembalikan barangmu!
OTONG
Bagus! Mari kita pergi!
(MEREKA PERGI DAN KETIKA MEREKA SAMPAI DI PINTU ANEN TERSENTAK DAN MEMANGIL)
ANEN
Hai! Tunggu dulu!

FATIMAH
Kau jangan bicara dengan aku lagi bangsat!
ANEN
Aku tak bicara dengan kau, monyet!
OTONG
Kau pun tak usah bicara lagi dengan aku! Kau telah menghina gadis yang amat kucintai!
FATIMAH
(GEMBIRA MENATAP OTONG) Jadi … jadi kau mencintai aku, Otong?
OTONG
Benar sayang, aku sungguh-sungguh mencintaimu!
FATIMAH
(MEMELUK OTONG) Oh! Kenapa tidak kau ucapkan dari dulu-dulu cintamu itu, Tong?
OTONG
(MALU-MALU) Habis … habis, aku takut, tapi sekarang kau sudah tahu aku cinta padamu?
ANEN
(MASIH DI LANTAI) Wah … hebat! Kalau begitu aku bisa ucapkan selamat pada kalian!
FATIMAH
(DINGIN) Mari kita segera pergi, saying … di sini suasananya sangat memuakkan.
OTONG
Mari (MEREKA PERGI SAMBIL BERPELUKAN).
(ANEN BANGKIT DAN MEMBERSIHKAN PAKAIANNYA DARI DEBU DAN IKAH TETAP BERDIRI DENGAN ANGKUHNYA MEMBELAKANGI ANEN0
ANEN
Nah, kau sekarang telah betul-betul menghancurkan hidupku, semoga kau puas nona New York!


IKAH
(MEMBALIK) Aku? Aku menghancurkan hidupmu?! Justru sebaliknya kau yang telah menghancurkan hidupku!
ANEN
(MENDEKAT) Kau betul-betul harus dihajar!
IKAH
(MUNDUR) Jangan dekat-dekat aku! Kau anak berandalan!
ANEN
Jangan kuatir, aku tak akan menyentuhmu sama sekali bahkan dengan tongkat sepanjang tiga meter pun aku tak akan sudi menyentuhmu!
IKAH
Dan aku tak akan sudi menyentuh kulitmu sekalipun dengan tongkat sepanjang tiga meter setengah!
ANEN
Baru satu tahun saja tinggal di New York sudah belagu! Mentang-mentang dari Amerika, tidak mau kenal lagi sama teman sekampung norak loe!
IKAH
Baru satu tahun saja aku meninggalkanmu, kau sudah serong! Lelaki macam apa kau ini?! Coba ingat, waktu kau mengikrarkan pertunangan kita, kau bersumpah mati kepadaku. Kau berjanji akan menantikan aku, dan aku percaya sekali kepadamu! Tapi buktinya? Apa kau yang belagu! Banyak tingkah! Sok jadi play boy. Ini play boy Jelambar! Apa?!
ANEN
Lalu apa yang kau tangisi sekarang? (MENIRU GAYA IKAH) Lupakanlah! Itulah gaya New York. Tak ada sesuatu pun yang harus dihadapi dengan berkerut dahi, tak ada sesuatupun yang harus kita selesaikan secara berlebihan kita jangan terlalu banyak membuang waktu dan energi.
IKAH
Oh … Anen sudahlah … aku menyesal …!



ANEN
Dan kuharap kau bisa mengerti akan maksudku, bahwa kini, tak ada lagi yang bisa kita bicarakan tentang sebuah pertunangan antara kita dulu, dank au tahu, bahwa kita tidak akan bisa melangsungkan pernikahan kita, karena itu hanyalah akan merupakan pemblasteran belaka. Bayangkan bagaimana mungkin seorang penduduk New York menikah dengan seorang laki-laki dari Jelambar! Itu hanya akan menjadi sebuah lelucon dunia saja!
IKAH
Anen … sudahlah! Hentikan lelucon ini! Aku menyesal! Betul-betul itu hanyalah ketololan saja! Kau mau memaafkanku bukan?
ANEN
Tidak! Tidak segampang itu kau meminta maaf! Aku senang, senang sekali melihat makhluk macam apa sebenarnya kau ini!
IKAH
(MENDEKAT TAKUT) Oh, Anen! Kau keliru! Kau salah! Aku sesekali bukanlah orang yang semacam itu! Aku tak seburuk apa yang kau kira barusan.
ANEN
Apalah artinya orang, bagiku? Itu hanya istilah yang nisbi belaka, bah!
IKAH
Benar, Anen. Begitulah hal-hal yang telah diucapkan Francesca, hal-hal yang bodoh dan pandir, tetapi Francesca sudah tak ada lagi sekarang, dan gadis yang sekarang ada dihadapanmu ini adalah Ikah, tunanganmu yang dulu!
ANEN
Dan dengan pakaian yang amat menggelikan ini?
IKAH
(MEMPERHATIKAN DAN MELURUSKAN BAJUNYA) Oh … inikan hanya bungkusnya doing, Anen, tetapi dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku ini hanyalah seorang gadis Jelambar saja yang mencintai setengah mati kekasihnya, seorang pemuda dari Jelambar.
ANEN
Wah … wah … wah …!

IKAH
Betul, Anen! Aku ini Ikah yang sungguh-sungguh, bukan Ikah yang jadi-jadian! Kau masih ingat padaku bukan? Ketika kita sama-sama berenang di empang waktu anak-anak? Dan kini aku telah kembali untukmu Anenku sayang!
ANEN
Dan kalau aku tidak salah ingat , aku dulu pernah bertunangan dengan seorang gadis Jelambar bernama Ikah.
IKAH
Benar, dan hingga kinpun kau masih bertunangan dengan dia.
ANEN
(BERUBAH SEPERTI WAKTU LALU) Selamat datang, Ikah! Wah, bagaimana dengan perjalananmu yang jauh dari seberang lautan?
IKAH
Wah! Sungguh-sungguh memuakkan, kekasihku! Dan aku tak bisa tenang sebelum menginjak tanah Jelambar.
ANEN
Menyenangkankah tinggal di New York selama setahun?
IKAH
Puah! Kampung ini selalu lebih menyenangkan dari pada di Amerika!
ANEN
Lalu kenapa surat-suratku tidak pernah kau balas?
IKAH
(SETELAH BERPIKIR SEJENAK) Ah … si Francesca menyuruhku selalu tak pernah mengijinkan aku untuk membalasnya.
ANEN
Sungguh-sungguh busuk gadis itu! Untung sekarang sudah …
(DARI LUAR BI ATANG MEMANGGIL MANGGIL! “FRANCESCA”! “FRANCESCA”! MEREKA DIAM, BERPANDANGAN, LALU BERHAMBURLAH TAWA MEREKA)
BI ATANG
(MUNCUL DARI DALAM) Frances … eh Anen, kau masih di sini, oh ya Francesca, jangan marah, aku tak dapat menemukan seledri kesukaanmu.
IKAH
Ah nggak apa-apa Nyak! Aku memang nggak suka seledri!
BI ATANG
Lho! Katamu kau tidak akan bisa hidup tanpa seledri!
ANEN
(BANGKIT) Iya, itukan Francesca< Francesca sekarang sudah mati, sedang yang ada di muka Bibi sekarang ini adalah Ikah, gadis Jelambar yang denok.
BI ATANG
Tapi … Francesca itukan Ikah juga …
IKAH
OH … BUKAN Nyak, aku ini Ikah! Bukan Francesca!
BI ATANG
(MENATAP KEDUA ANAK ITU YANG TERSENYUM-SENYUM LALU MENGANGKAT TANGAN DAN MASUK KE DALAM) Yah … apa boleh buat tapi aku menyerah!
(DARI TETANGGA TIBA-TIBA TERDENGAR SEBUAH LAGU BARAT, KEMUDIAN IKAH TERTAWA DAN MENGIKUTI ALUNAN LAGU ITU).
IKAH
(KUMAT LAGI) Lagu ini! Amboi! Betapa indahnya kengan-kenangan yang merasuki pembuluh-pembuluh nadiku ini … kudengar lagu ini untuk pertama kalinya di New York pada pertunjukkan Eddie Conden … !
ANEN
(MEMPERINGATKAN DENGAN TELUNJUKNYA) Nah, nah nah ya kambuh lagi! Kesurupan lagi kan?!
IKAH
(SUNGGUH MENYESALI) Oh … ! Maafkan aku, saying ! (MEMELUK ANEN) Aku tidak sadar barusan.

ANEN
Taka pa-apa, maklum baru datang dari Amerika (MEREKA TERTAWA).
IKAH
(MERAJUK) Sayang …!
ANEN
Ada apa manisku … ?
IKAH
Maukah Tuan aku masakkan urab jenkol?
ANEN
Wow! Dengan segala senag hati nona!
(MEREKA TERTAWA LALU BERPELUKAN MAKIN KETAT DAN MENARI LALU LAYARPUN TURUN).
SELESAI ……..

(DISADUR OLEH NOORCA MARENDRA DARI KARYA MARCELINO ACANA JR TERJEMAHAN TJETJE JUSUF)